Bukan Cuaca, Aktivitas Manusia Diduga Picu Karhutla di SBT

  • 03 Agt 2026 14:06 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula – UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, menduga aktivitas manusia menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menghanguskan sekitar 280 hektare di wilayah tersebut.

Kepala UPTD KPH Kabupaten Seram Bagian Timur, Musa Rumakat, mengatakan hasil pengawasan di lapangan menunjukkan sebagian besar titik api muncul di lokasi yang mudah diakses masyarakat maupun kendaraan.

Api kemudian merambat ke kawasan semak belukar yang kering sehingga kebakaran meluas.

"Kalau melihat kondisi di lapangan, faktor alam sangat kecil. Faktor manusia jauh lebih dominan karena banyak titik api muncul di lokasi yang dapat diakses masyarakat, lalu menyebar ke semak belukar yang mudah terbakar," kata Musa kepada wartawan, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurut Musa, tingginya risiko kebakaran terutama di Kecamatan Bula juga dipengaruhi karakteristik tutupan lahannya. Sekitar 38 persen wilayah tersebut merupakan semak belukar yang sangat mudah terbakar, terutama saat cuaca panas.

Ia menjelaskan, sedikit saja ada sumber api, baik dari aktivitas pembukaan lahan, pembakaran sampah, maupun aktivitas lain, kobaran api dapat dengan cepat menyebar karena vegetasi yang kering.

Karena itu, KPH SBT mengimbau masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pada siang hingga sore hari ketika suhu udara berada pada puncaknya.

"Pencegahan menjadi langkah paling penting agar kebakaran tidak semakin meluas. Api yang masih kecil harus segera dikendalikan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar," ujarnya.

Berdasarkan hasil analisis geospasial, luas karhutla di Kabupaten Seram Bagian Timur mencapai sekitar 280 hektare, tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bula, Kecamatan Bula Barat dan Kecamatan Teluk Waru.

Rinciannya, Kecamatan Bula seluas 210 hektare, Kecamatan Bula Barat 42 hektare, dan Kecamatan Teluk Waru 28 hektare.

Musa juga mengajak pemerintah daerah, aparat, dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat upaya pencegahan karhutla melalui edukasi kepada masyarakat dan pengawasan di wilayah rawan kebakaran.

Di sisi lain, upaya penanganan kebakaran masih menghadapi berbagai kendala. KPH Kabupaten Seram Bagian Timur hanya memiliki delapan personel untuk menangani wilayah kerja yang luas, didukung satu unit armada pemadam berkapasitas tangki sekitar 600 liter serta pompa gendong berkapasitas 16 liter.

Selama 21 hari terakhir, petugas terus merespons laporan kebakaran yang masuk melalui layanan Call Center 112. Namun, keterbatasan personel, anggaran, dan akses menuju lokasi kebakaran di kawasan perbukitan maupun hutan menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....