Karhutla di Bula SBT Terus Meluas Capai 280 Hektare

  • 03 Agt 2026 14:05 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula – UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut mencapai sekitar 280 hektare berdasarkan hasil analisis geospasial. Luasan itu tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bula, Kecamatan Bula Barat dan Kecamatan Teluk Waru dengan titik terparah berada di Kecamatan Bula.

Pernyataan ini juga muncul di tengah meningkatnya kejadian karhutla di daerah tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Kepala UPTD KPH Kabupaten Seram Bagian Timur, Musa Rumakat, mengatakan luas lahan yang terbakar terdiri atas 210 hektare di Kecamatan Bula, 42 hektare di Kecamatan Bula Barat, dan 28 hektare di Kecamatan Teluk Waru.

"Dari analisa geospasial, luas kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 280 hektare, dengan rincian Kecamatan Bula 210 hektare, Bula Barat 42 hektare, dan Teluk Waru 28 hektare," kata Musa Rumakat kepada wartawan, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurut Musa, Kecamatan Bula merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran karena didominasi tutupan lahan berupa semak belukar yang mudah terbakar saat cuaca panas.

Ia menjelaskan, sekitar 38 persen tutupan lahan di wilayah Bula merupakan semak belukar. Kondisi tersebut membuat kawasan itu sangat sensitif terhadap panas maupun percikan api yang berasal dari aktivitas manusia.

"Sedikit saja ada sumber api, baik karena aktivitas masyarakat maupun faktor lainnya, api dapat dengan cepat menyebar karena vegetasi semak belukar sangat mudah terbakar," ujarnya.

Karena itu, Musa mengimbau masyarakat tidak lagi membuka lahan maupun membakar sampah di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran.

"Kami berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan di area yang rawan. Pencegahan menjadi langkah paling penting agar kebakaran tidak semakin meluas," katanya.

Selain masyarakat, Musa meminta pemerintah daerah, aparat, dan seluruh pemangku kepentingan ikut berperan aktif dalam upaya pencegahan serta pengendalian karhutla.

Musa mengakui upaya penanganan kebakaran di lapangan masih terkendala keterbatasan personel dan anggaran. Saat ini, KPH Kabupaten Seram Bagian Timur hanya memiliki delapan personel yang harus menangani wilayah kerja yang cukup luas.

"Personel kami hanya sekitar delapan orang. Dengan jumlah itu tentu kemampuan kami terbatas untuk menjangkau seluruh lokasi kebakaran," ujarnya.

Ia mengatakan, selama 21 hari terakhir petugas terus menerima laporan kebakaran melalui layanan Call Center 112 dan berupaya merespons setiap laporan yang masuk.

Musa mengapresiasi petugas Call Center 112 yang terus berkoordinasi dengan KPH meski dihadapkan pada keterbatasan sumber daya.

"Kami tetap berusaha turun setiap ada laporan. Namun untuk lokasi yang jauh di kawasan perbukitan atau hutan dengan akses sulit, kami tidak selalu bisa menjangkaunya karena keterbatasan personel dan pendanaan," kata dia.

Selain personel, keterbatasan juga terjadi pada sarana dan prasarana pemadaman. KPH SBT hanya memiliki satu unit armada pemadam dengan kapasitas tangki air sekitar 600 liter sehingga penggunaannya harus dilakukan secara efisien.

Di lapangan, petugas juga mengandalkan pompa gendong berkapasitas 16 liter yang digunakan secara manual untuk menyemprot titik-titik api.

"Kami harus mengatur penggunaan air dengan hati-hati agar bisa menjangkau beberapa lokasi sekaligus," ujar Musa.

Ia pun mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam pengendalian kebakaran dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia.

Berdasarkan hasil pengawasan di lapangan, Musa menilai kebakaran yang terjadi tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca panas. Ia menduga aktivitas manusia menjadi penyebab yang lebih dominan.

Menurut dia, sebagian besar titik api ditemukan di lokasi yang dapat diakses kendaraan maupun masyarakat. Api kemudian menjalar ke kawasan semak belukar yang kering sehingga kebakaran meluas.

"Kalau melihat kondisi di lapangan, faktor alam sangat kecil. Faktor manusia jauh lebih dominan karena banyak titik api muncul di lokasi yang dapat diakses masyarakat, lalu menyebar ke semak belukar yang mudah terbakar," kata Musa.

Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pada siang hingga sore hari ketika suhu udara mencapai puncaknya dan vegetasi menjadi sangat kering.

"Pencegahan adalah kunci. Api yang masih kecil harus segera dikendalikan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar," tutupnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....