Ketika Jerigen Lebih Berat dari Cangkul di Bawah Terik Matahari Bula

  • 11 Sep 2026 18:36 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula - Pukul 5 pagi, langit kota Bula masih gelap. Tapi mbak Ponicim, 49 tahun, warga Bula, Seram Bagian Timur (SBT) sudah memanggul jerigen di pundaknya. Bukan untuk mandi atau minum. Air itu untuk "minumnya" tanaman sayuran lahan kebun yang mulai menguning dan retak.

Fenomena kekeringan di musim kemarau memang telah mengancam lahan pertanian di wilayah kabupaten seram bagian timur. Gambaran kekeringan terlihat dari pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) oleh BMKG Geser, yang mencatat sudah mencapai 73 hari lebih tanpa hujan.

Tanah yang biasanya becek kini keras seperti semen. Kemarau datang yang datang, membuat perjuangan baru para petani untuk mestaikan tanaman tetap hidup.

Saat rutin menyiram tanaman

Setiap hari mbak Ponicim, perempuan yang ditinggal suaminya karena meninggal dunia ini harus berjibaku mengambil air di pagi hari dan sore hari untuk menyelamatkan setangkai harapan dari tanaman sayurannya.

Ponicim hidup bersama putranya yang masih di bangku Sekolah Dasar (SD. Keduanya tinggal disebuah gubuk kecil yang berdinding kayu yang mulai lapuk.

Dibalik gubuk kayu ini lahannya dipenuhi sayuran hijau yang memanjakan mata, namun pemandangan itu hanya bisa dikenang sebab yang terlihat sekarang hanyalah tanaman yang mulai kering dan tak sehat.

Kepada RRI, Ponicim menuturkan kondisi yang dihadapi saat musim kemarau melanda kota bula dan sekitarnya.

"Sejak musim panas sudah hampir 4 bulan ini, tanaman banyak yang kering, jadi saya harus rutin siram tanaman pagi dan sore hari, pakai jarigen, kebetulan ada sumur disini," kata Ponicim sambil menyiram tanaman pada Jumat 11 September 2026.

Lahan yang digarap ponicim lokasi desa limumir

Lahan pertanian yang digarap mbak ponicim seorang diri ini berlokasi didesa limumir lorong Pandawa lima, lahan ini berukuran lebih dari 80 meter persegi, diisi dengan tanaman umur pendek, sayuran, tomat dan cabai. hasil panen biasanya ia jual untuk menghidupi kehidupan sehari - hari dan biaya sekolah anaknya.

Bagi ponicim lahan pertanian ini menjadi sumber kehidupan untuknya sehingga musim kemarau datang tidak membuatnya patah semangat untuk terus merawat tanamannya, lahan pertanian ini terdapat satu sumur yang digali sendiri oleh ponicim dengan kedalaman 5 meter, dinding sumur masih menggunakan bekas drum minyak tanah untuk menahan tanah yang melingkar disamping.

Sumur dengan kedalam 5 meter

Ponicim berharap musim hujan segara datang agar tanaman - tanaman bisa kembali subur, baginya musim kemarau mengajari arti sabar, saat tanah retak, yang tidak retak adalah semangat petani untuk terus menumbuhkan harapan, setetes demi setetes akan menjadi air kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....