Krisis Air Bersih di Kesui Watubela SBT Makin Memprihatinkan

  • 03 Okt 2026 18:21 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula- Kemarau panjang membuat krisis air bersih di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, semakin memprihatinkan. Di Negeri Lahema, Kecamatan Kesui, anak-anak bahkan harus menyeberangi laut menggunakan perahu fiber hanya untuk mengambil air dari Negeri Effa.

Perahu fiber menjadi tumpuan warga untuk mendapatkan air bersih. Di tengah keterbatasan, anak-anak ikut membantu orang tua memenuhi kebutuhan air untuk minum dan keperluan sehari-hari.

Risiko perjalanan harus mereka hadapi. Laut yang harus diseberangi bukan lagi sekadar jalur penghubung antarwilayah, tetapi menjadi bagian dari perjuangan warga mendapatkan kebutuhan paling dasar.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Kabupaten SBT, Rudi Wajo, Sabtu, 3 Oktober 2026.“Anak-anak Negeri Lahema mengambil air dari Negeri Effa untuk kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan perahu fiber. Walaupun nyawa jadi taruhan, mereka tetap bersemangat karena kebutuhan air bersih memaksa mereka melakukan itu untuk membantu orang tua,” kata Rudi.

Menurut Rudi, kondisi tersebut menunjukkan krisis air bersih di SBT telah menyentuh persoalan kebutuhan dasar sekaligus keselamatan masyarakat. Ia mengaku menerima laporan mengenai kondisi air yang semakin kritis di sejumlah wilayah Kesui, termasuk Lahema Ilili dan Wunin Eldora, pada, Jumat, 2 Oktober 2026.

“Anwar lapor ke beta tadi pagi. Infonya air sangat krisis. Harus ada langkah cepat dari Pemda SBT. Kalau tidak, akan mengakibatkan nyawa taruhannya,” ujarnya.

Krisis air membuat warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan air. Tak hanya tenaga dan waktu, kondisi tersebut juga menambah beban pengeluaran masyarakat.

Rudi mengatakan persoalan itu dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga para kepala keluarga.

“Kita melihat sendiri, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, semuanya ikut menanggung beban ini. Ini bukan masalah kecil, ini adalah urusan dasar kemanusiaan,” ujarnya.

Karena itu, Rudi mendesak Pemerintah Kabupaten SBT segera menjadikan penanganan krisis air bersih sebagai prioritas, terutama di wilayah yang terdampak kemarau panjang. Ia juga meminta pemerintah memanfaatkan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menangani kondisi darurat masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih.

Menurutnya, anggaran tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus memperbaiki infrastruktur yang telah tersedia.

Beberapa langkah yang dinilai perlu dilakukan antara lain pengeboran sumur baru, pembangunan tampungan air, hingga memperpanjang jaringan pipa menuju desa-desa yang belum terjangkau layanan air bersih.

“Jangan ditunda lagi. Setiap hari yang berlalu, warga kita masih menanggung kesulitan,” katanya.

Rudi menegaskan penanganan krisis air bersih tidak bisa hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah. Menurutnya, pemerintah daerah, DPRD, seluruh perangkat daerah, pemerintah desa hingga tokoh masyarakat perlu duduk bersama untuk menyusun langkah penanganan yang konkret, terukur dan berkelanjutan.

“Kita harus memastikan dana ini sampai, dikelola dengan baik, dan hasilnya terasa langsung oleh masyarakat,” kata Rudi.

Ia berharap Pemkab SBT segera turun tangan sebelum kondisi masyarakat semakin sulit.

Bagi warga di wilayah terdampak, air bukan sekadar persoalan fasilitas pelayanan publik. Air menjadi kebutuhan yang menentukan keberlangsungan hidup sehari-hari.

“Kita hidup di tanah yang kaya karunia Tuhan. Semestinya air bersih pun dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa di SBT,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....