Jangan Tunggu Banjir, KNPI SBT Desak Pemkab Normalisasi Sungai saat Masih Kemarau

  • 19 Sep 2026 17:20 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula- DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, menyoroti kondisi sejumlah sungai saat musim kemarau. KNPI mendorong pemerintah daerah segera melakukan normalisasi sebelum musim hujan tiba. Ketua DPD KNPI SBT Irwan Derlen mengatakan sejumlah aliran sungai mengalami penyempitan badan kali, sedimentasi, hingga penumpukan sampah rumah tangga. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir saat curah hujan meningkat.

Menurut Irwan, musim kemarau menjadi momentum bagi Pemkab SBT untuk melakukan pengerukan dan normalisasi sungao. Kondisi sungai yang sedang surut dinilai memudahkan alat berat masuk ke lokasi. "Ini momentum emas. Saat kemarau alat berat bisa masuk, pengerukan bisa maksimal. Kalau kita tunggu hujan baru bergerak, maka yang terjadi pasti banjir lagi," kata Irwan kepada RRI.CO.ID, Sabtu, 19 September 2026.

Irwan meminta Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri memberikan perhatian serius terhadap program normalisasi sungai. Menurutnya, normalisasi perlu menjadi bagian dari langkah jangka panjang dalam penanganan banjir di SBT.

"Sudah saatnya Bupati SBT berpikir serius soal normalisasi kali sebagai solusi jangka panjang penanganan banjir," ujarnya.

DPD KNPI SBT juga mendorong Pemkab SBT memasukkan program normalisasi kali sebagai salah satu prioritas dalam perubahan APBD 2026. Sejumlah aliran sungai di dalam Kota Bula menjadi perhatian KNPI, salah satunya Kali Wailola. KNPI SBT meminta penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

"Program normalisasi harus menjadi prioritas dan ditangani secara terpadu dengan melibatkan Dinas PUPR, BPBD, dan DLH dalam satu komando," kata Irwan.

Selain pengerukan dan normalisasi, KNPI SBT mendorong pemerintah daerah menata kawasan bantaran sungai. Pemerintah diminta menertibkan bangunan yang berada di sempadan sungai serta meningkatkan sosialisasi dan penegakan aturan terkait pemanfaatan kawasan tersebut.

Irwan, yang merupakan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang SBT, menilai penanganan banjir selama ini masih cenderung dilakukan setelah bencana terjadi. Dia mendorong pemerintah mengubah pola tersebut dengan memperkuat langkah pencegahan.

"Selama ini penanganan kita masih bersifat reaktif: banjir datang baru bagi sembako. Harusnya preventif. Normalisasi kali adalah investasi untuk menyelamatkan rumah, sekolah, jalan, dan nyawa warga. Jangan sampai terlambat," katanya.

KNPI SBT berharap Pemkab segera menjadikan normalisasi sungai sebagai salah satu program strategis daerah. Pembenahan aliran sungai dinilai perlu dilakukan sebelum musim hujan untuk mengurangi risiko banjir.

"Karena menyelamatkan kali, sama artinya menyelamatkan masa depan SBT. Bertindak sekarang, sebelum semuanya terlambat," ujar Irwan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026.

BMKG menyebut durasi musim kemarau tahun ini diprakirakan berlangsung selama tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayah.

Musim kemarau berpotensi lebih panjang pada 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia. Pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0-150 milimeter per dasarian.

Kondisi tersebut menunjukkan pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih relatif terbatas. Salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah kondisi El Nino kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Dengan kondisi tersebut, cuaca kering masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....