Sampah di Kota Bula Masih Jadi Keluhan, DLH SBT Akui Armada Pengangkut Terbatas

  • 25 Mei 2026 16:37 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula - Permasalahan sampah di Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), masih menjadi keluhan masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) SBT mengakui penanganan sampah belum maksimal akibat keterbatasan armada pengangkut serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah.

Plt Kepala KepalaKepala DLH Kabupaten SBT Miranwati Derlen mengatakan sampah di Kota Bula berasal dari aktivitas rumah tangga masyarakat yang terus meningkat setiap hari.

"Pengelolaan sampah di Kota Bula masih menggunakan sistem pengangkutan dari titik-titik tertentu langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA)," kata Miranwati kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin, 25 Mei 2026.

Ia menjelaskan, saat ini DLH SBT memiliki empat jalur pengangkutan sampah dengan empat unit mobil truk pengangkut. Selain itu terdapat satu Arm roll truck dan tiga kendaraan Viar yang digunakan untuk menjangkau lorong-lorong sempit atau kondisi tertentu.

Namun, sebulan terakhir hanya tiga armada yang dapat beroperasi karena satu mobil mengalami kerusakan. Kondisi itu membuat proses pengangkutan sampah menjadi terlambat.

"Awalnya pengangkutan dilakukan sekitar pukul 04.30 sampai 05.00 WIT. Tapi karena petugas melaksanakan salat subuh, jadwal dimulai setelah itu. Akibatnya pengangkutan selesai lebih siang," ujarnya.

Menurut Miranwati, idealnya pada pukul 07.00 WIT kondisi Kota Bula sudah bersih dari sampah. Akan tetapi keterlambatan operasional serta kerusakan armada menyebabkan masih ada tumpukan sampah yang belum terangkut.

DLH SBT sebenarnya telah mengimbau masyarakat agar membuang sampah pada malam hari sehingga petugas dapat langsung mengangkutnya saat subuh.

"Kalau masyarakat buang sampah malam hari, subuh diangkut dan siang hari kota sudah bersih," katanya.

Selain keterbatasan armada, Miranwati juga menyoroti belum adanya sistem pemilahan sampah di masyarakat. Menurutnya, volume sampah seharusnya bisa berkurang dari tahun ke tahun, namun hingga kini justru terus meningkat.

DLH SBT, lanjut dia, terus melakukan sosialisasi, edukasi, dan pembinaan terkait pengelolaan sampah. Meski demikian, program tersebut belum berjalan maksimal karena keterbatasan anggaran dan efisiensi.

"Di kecamatan-kecamatan lain masih sebatas sosialisasi. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya juga masih rendah," ujarnya.

Ia mengungkapkan sosialisasi mengenai kebersihan dan pengelolaan sampah sebenarnya sudah dilakukan sejak kepemimpinan kepala dinas sebelumnya.

Namun kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan masih sulit diubah.

Miranwati menilai penambahan armada pengangkut menjadi salah satu solusi penting agar seluruh jalur pengangkutan bisa terlayani tepat waktu.

"Kalau armadanya masih seperti sekarang, pasti tetap ada kendala," katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta membuang sampah di titik yang telah ditentukan. Saat ini, dalam satu jalur pengangkutan terdapat hingga 20 sampai 30 titik sampah sehingga memperlambat proses pengangkutan.

"Kalau satu jalur hanya lima titik misalnya, tentu lebih cepat. Tapi sekarang mobil harus berhenti berkali-kali untuk angkut sampah, sehingga memakan waktu cukup panjang," ujarnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....