PT SIM Target Investasi Pisang Abaka 3.500 Hektare di SBT

  • 16 Jan 2026 07:44 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula – PT Spice Island Maluku (PT SIM) menargetkan investasi pisang abaka seluas sekitar 3.500 hektare di kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Hal ini disampaikan langsung Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Timur Sofyan Waraiya.

Ia mengatakan lahan tersebut berada di Kecamatan Bula dan Bula Barat. Penetapan lokasi akan dilakukan dengan hati-hati agar tidak bersinggungan dengan lahan milik masyarakat.

Menurut Sofyan, pihaknya juga akan melakukan pemetaan poligon untuk memastikan areal yang digunakan sesuai ketentuan.

“Dari akumulasi jumlah totalnya itu kurang lebih 3.500 sekian yang ditargetkan untuk investasi pisang abaka. Nanti dilakukan peta poligon untuk memastikan pengambilan areal inti berada di luar lahan kepemilikan masyarakat,” kata Sofyan kepada wartawan, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menegaskan, langkah ini dilakukan agar pengembangan pisang abaka tidak bertabrakan dengan tanaman perkebunan lain maupun tanaman pangan yang sudah lebih dulu dikelola masyarakat.

Menurut Sofyan, PT SIM menargetkan penguasaan lahan inti seluas sekitar 1.000 hingga 3.000 hektare. Sebagai tindak lanjut, pada Rabu 14 Januari 2025 lalu, telah dilakukan kunjungan dan survei lapangan secara langsung.

“Kunjungan lapangan itu melibatkan semua kepala desa, saniri, kepala dusun, serta tokoh-tokoh adat. Tujuannya untuk memastikan lahan tersebut bukan milik perorangan dan lebih diprioritaskan pada lahan negeri atau lahan adat,” jelasnya.

Selain survei lokasi, saat ini pihak perusahaan juga tengah menyiapkan dokumen perizinan. Sofyan menyebut, berdasarkan hasil diskusi dengan Manajer Lapangan PT SIM, Eko, kegiatan investasi ditargetkan mulai berjalan pada Juni 2026.

“Dokumen yang paling penting adalah bagaimana lahan ini bisa menjadi hak guna usaha (HGU) PT SIM, termasuk penyiapan lahan sekitar enam sampai sepuluh hektare untuk pembibitan,” ujarnya.

Ia menambahkan, lokasi pembibitan akan dipilih dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan, terutama ketersediaan sumber air yang dekat dengan area tersebut.

“Untuk tempat pembibitan harus berdekatan dengan sumber air. Itu yang sekarang masih dicari dan dipastikan,” pungkas Sofyan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....