Tak Kuasa Atasi Dampak Kemarau Panjang, Kades Wailola Minta Pemkab Bentuk Satgas

  • 28 Jul 2026 16:48 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula-Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, dilanda kemarau panjang, diperkirakan bahkan bisa berlangsung hingga Oktober mendatang. Dampak kemarau panjang berupa kekeringan dan kebakaran sangat terasa, terutama warga kota Bula dan sekitar.

Kepala Desa Wailola, Amin Rumbara mengungkapkan sumber daya aparatur di desanya saat ini tak lagi sanggup melakukan penanganan baik musibah kebakaran hutan dan lahan maupun kelangkaan air bersih akibat kekeringan.

Pasalnya sudah beberapa bulan ini, pihaknya telah mengarahkan segala sumber daya yang dimiliki termasuk anggaran yang dialokasi dari Dana Desa (DD) untuk menangani dampak kemarau panjang tersebut di wilayahnya.

"Sejak terjadinya kemarau yang mengakibatkan kekeringan dan juga kebakaran di Wailola, kami dari desa telah mengambil langkah-langkah cepat untuk melakukan proses penanganan terhadap kebutuhan air bersih maupun penanganan kebakaran," ujar Amin dalam konferensi pers di kantornya, Selasa 28 Juli 2026.

Dikatakan dalam menangani dampak kemarau panjang di desa Wailola, pihaknya lanjut Amin selalu berkoordinasi dengan Pemkab setempat melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan BPBD.

Berkat koordinasi itu kobaran api pada hutan dan lahan di wilayah administratif Wailola berhasil dipadamkan. Begitu pula kelangkaan air bersih dapat diatasi, kendati langkah yang diambil hanya bersifat sementara.

Sedang musim kemarau tahun ini diprediksi masih berlanjut sampai dengan Oktober mendatang. Menyadari kemarau ini masih berkepanjangan, Amin mengaku pihaknya kini sudah tidak lagi sanggup mengatasi dampak yang ditimbulkannya.

"Nah, hari ini saya mau menjelaskan bahwa dengan posisi perjalanan kemarau yang tidak dapat kita prediksi ini, sampai dengan hari ini sebagai Kepala Pemerintah Kampung Wailola, saya mau menyampaikan saya menyerah dan membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah secara utuh," ucapnya.

Amin mendesak Pemkab segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) melibatkan semua instansi terkait, termasuk TNI dan Polri dalam rangka penanganan dampak kemarau dimaksud.

Alumni aktivis HMI Cabang Fak-Fak itu menilai melalui pembentukan Satgas, upaya pencegahan dan penanggulangan baik kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan menjadi terpadu dan lebih maksimal. Dampak kemarau ini lanjut Amin tidak boleh dianggap sepele.

"Kita tidak bisa pandang enteng, kita tidak bisa anggap ini sepele karena di daerah-daerah yang rawan terhadap kekeringan, saat ini sudah mulai mengalami kesulitan yang amat luar biasa. Bahkan ada warga saya yang sudah mandi menggunakan air galon," katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....