Ini yang Harus Dilakukan Saat Melihat Kezaliman
- 14 Des 2025 14:59 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Kezaliman adalah perbuatan yang melanggar keadilan dan merugikan orang lain, baik dalam bentuk penindasan, kebohongan, korupsi, maupun penyalahgunaan kekuasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kezaliman sering kali hadir di sekitar kita, terkadang begitu dekat hingga dianggap biasa. Islam dengan tegas mengajarkan bahwa kezaliman tidak boleh didiamkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab moral sesuai dengan kemampuannya.
Langkah pertama saat melihat kezaliman adalah bertindak jika memiliki kekuasaan dan wewenang. Bertindak dengan tangan bukan berarti main hakim sendiri, tetapi menggunakan posisi, jabatan, atau peran secara sah untuk menghentikan ketidakadilan. Pemimpin, aparat, dan pengambil kebijakan memikul tanggung jawab paling besar dalam hal ini.
Jika tidak memiliki kekuasaan langsung, Islam menganjurkan untuk bersuara dengan lisan. Menyampaikan kebenaran, menegur dengan bijak, atau mengingatkan pelaku agar berhenti berbuat zalim adalah bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Diam saat mampu berbicara justru dapat menormalisasi kezaliman.
Namun, dalam kondisi tertentu, berbicara bisa membawa risiko serius. Saat itulah menolak kezaliman dengan hati menjadi pilihan terakhir. Menolak dengan hati berarti tidak membenarkan, tidak mendukung, dan tidak menikmati kezaliman tersebut. Ini menjaga agar nurani tetap hidup.
Al-Qur’an dengan jelas melarang keberpihakan pada orang zalim. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113). Ayat ini menjadi peringatan keras agar tidak berkompromi dengan ketidakadilan dalam bentuk apa pun.
Islam juga menekankan pentingnya berpihak kepada korban kezaliman. Membela yang lemah, membantu yang tertindas, dan memberi dukungan moral adalah bagian dari keimanan. Rasulullah SAW bahkan menyebut menolong orang yang dizalimi sebagai kewajiban umat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, kezaliman bisa muncul dalam bentuk korupsi, ketidakadilan hukum, dan perusakan lingkungan. Sikap diam, apatis, atau ikut menikmati hasilnya adalah bentuk keterlibatan tidak langsung. Islam mengajarkan bahwa keadilan adalah fondasi kehidupan yang diridhai Allah.
Namun, melawan kezaliman harus dilakukan dengan cara yang bijak dan bermartabat. Islam tidak membenarkan kekerasan tanpa aturan, fitnah, atau kebencian. Kebenaran harus disampaikan dengan akhlak, agar tidak melahirkan kezaliman baru.
Saat melihat kezaliman, seorang beriman tidak boleh netral. Bertindaklah sesuai kemampuan: dengan perbuatan, dengan suara, atau setidaknya dengan hati yang menolak.
Karena diam terhadap kezaliman bukan sikap aman, melainkan tanda runtuhnya kepekaan iman. Keadilan mungkin terasa berat, tetapi membela kebenaran selalu bernilai di sisi Allah SWT. (AMY/YPA)