Rasionalisasi Koruptor, "Dari Rasa Bersalah ke Pembenaran"

  • 08 Des 2025 13:36 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Banyak koruptor awalnya merasa bersalah saat melakukan kejahatan. Namun pikiran mereka mencari cara untuk meredakan rasa bersalah itu.

Rasionalisasi adalah mekanisme psikologis untuk membenarkan perilaku salah. Dengan logika yang dimanipulasi, mereka mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

“Semua orang juga melakukan” menjadi alasan paling sering muncul. Mereka merasa aman karena bukan satu-satunya pelaku.

Koruptor bisa saja berdalih demi keluarga atau masa depan. Padahal kepentingan diri sendiri yang sebenarnya mendominasi.

Ada yang merasa sudah bekerja keras sehingga layak mendapat lebih. Mereka menutupi korupsi dengan klaim “hak pribadi”.

Koruptor juga bisa mendramatisir kondisinya agar terlihat sebagai korban sistem. Mereka memutarbalikkan fakta untuk menghindari rasa malu.

Lama-lama, rasa bersalah memudar dan berubah menjadi kebanggaan. Korupsi dianggap sebagai kecerdikan dalam memanfaatkan celah.

Pembenaran ini membuat mereka semakin berani melakukan korupsi. Batas moral semakin kabur seiring waktu.

Pemahaman yang salah ini berbahaya karena menghalangi pertobatan. Hati tertutup oleh kesombongan dan tipu daya pikiran sendiri.

Rasionalisasi adalah dinding yang menghalangi koruptor melihat dosa yang mereka perbuat. Padahal mereka sedang menghancurkan kehidupan banyak orang. (AMY/YPA)

Rekomendasi Berita