Sariamin Ismail, Guru dan Pelopor Novel Perempuan Indonesia
- 09 Mar 2026 12:55 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Nama Sariamin Ismail tercatat dalam sejarah sastra Indonesia sebagai perempuan pertama di Tanah Air yang menerbitkan novel. Lahir di Talu, Pasaman, Sumatera Barat, pada 1909, Sariamin bukan hanya seorang sastrawan, tetapi juga pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan dan perjuangan pemikiran hingga akhir hayatnya pada 1995.
Karya monumentalnya berjudul Kalau Tak Untung yang terbit pada 1933 menjadi tonggak penting dalam sejarah sastra Indonesia. Novel tersebut kemudian disusul dengan karya berjudul Pengaruh Keadaan pada 1937. Kedua karya itu diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit resmi pemerintah kolonial saat itu yang banyak melahirkan karya sastra penting di Indonesia.
Bakat menulis Sariamin telah terlihat sejak usia dini. Ia mulai menulis puisi pada usia 10 tahun dan karyanya mulai dipublikasikan di surat kabar ketika berusia 16 tahun. Setelah menamatkan pendidikan di sekolah guru perempuan (Meisjes Normaal School), ia mengabdikan diri sebagai guru di sejumlah wilayah di Sumatera.
Sebagai pendidik, Sariamin dikenal memiliki jiwa seni yang kuat serta pemikiran yang kritis terhadap berbagai persoalan sosial. Ia aktif mengikuti sandiwara keliling yang mengangkat tema-tema pendidikan, sekaligus terus menghasilkan tulisan. Karya-karyanya tidak hanya menyoroti posisi dan perjuangan perempuan dalam masyarakat, tetapi juga memuat semangat perlawanan terhadap penjajahan.
Karena gagasan-gagasannya yang kerap melawan arus, Sariamin menggunakan sejumlah nama pena dalam publikasinya. Beberapa nama tersebut diambil dari nama tanaman yang tumbuh di kampung halamannya. Salah satu yang paling dikenal adalah Selasih Selaguri.
Sosok Sariamin Ismail atau yang akrab dikenal sebagai Ibu Selasih, menjadi gambaran guru sejati pada masanya. Ia bukan hanya milik dirinya atau institusi tempatnya mengajar, melainkan juga milik masyarakat dan bangsanya. Melalui pendidikan dan karya sastra, ia mewariskan semangat keberanian berpikir, kecintaan pada ilmu, serta perjuangan untuk kemajuan perempuan Indonesia.(ER)