Dibawah Hujan dan Terik, Pina Bertahan Demi Anak

  • 05 Mar 2026 18:06 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi – Pagi itu hujan turun rintik-rintik. Tak lama kemudian, matahari kembali menyengat. Di persimpangan lampu merah dekat Simpang Raya, tepat di depan Rumah Sakit Tentara Bukittinggi, seorang perempuan berdiri sambil menggenggam beberapa botol air mineral.

Namanya Pina, 36 tahun. Ia seorang janda dengan satu anak perempuan berusia 9 tahun. Perempuan asal Maninjau itu sudah hampir satu tahun berjualan air mineral di pinggir jalan, menyapa setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah.

Panas dan hujan bukan lagi hal yang asing baginya. Demi mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari, Pina tetap berdiri di tepi jalan, berharap ada pengendara yang membeli dagangannya.

Di sampingnya, sang anak tampak tertidur lelap. Tubuh kecil itu bersandar di pelukan ibunya, diterpa angin dan debu kendaraan yang melintas. Pemandangan itu seketika menyentuh nurani siapa saja yang melihatnya.

Saat ditemui dan dimintai izin untuk diwawancarai, Pina memeluk anaknya lebih erat. Wajahnya lelah, tetapi matanya menyimpan keteguhan.

“Untuk makan sehari-hari, dan juga bayar kontrakan,” katanya pelan.

Pina dan anaknya tinggal di sebuah kontrakan sederhana di kawasan Komplek Asrama Kodim 0304/Agam di Jalan Sudirman. Dari hasil berjualan air mineral itulah ia berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Bagi Pina, setiap botol yang terjual adalah harapan. Harapan agar dapur tetap mengepul, dan agar anaknya tetap bisa bersekolah.

Namun, berdagang di pinggir jalan tentu bukan pilihan yang mudah, apalagi di kota wisata seperti Bukittinggi. Selain berisiko bagi keselamatan, kondisi tersebut juga memunculkan keprihatinan banyak pihak.

Kisah Pina seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah daerah melalui dinas terkait diharapkan dapat hadir memberikan solusi nyata—mulai dari bantuan modal usaha hingga menyediakan tempat berjualan yang lebih layak, misalnya di pasar atau lokasi yang aman.

Di tengah suasana Ramadan 1447 Hijriah, kisah Pina menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak meminta belas kasihan, hanya kesempatan agar bisa bekerja dengan lebih baik dan aman.

Sebagai kota tujuan wisata, wajah kemanusiaan juga menjadi cermin bagi Bukittinggi. Kepedulian masyarakat, pemerintah, maupun lembaga sosial sangat dibutuhkan agar Pina dan anaknya tidak harus terus berdiri di tepi jalan, menghadapi panas, hujan, dan debu kendaraan.

Sebab di balik setiap lampu merah yang menyala, ada seorang ibu yang sedang berjuang untuk masa depan anaknya.

Pertanyaannya sederhana: siapa yang akan peduli? ❤️

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita