Ranah dalam Darah, Rantau dalam Langkah

  • 01 Mar 2026 19:43 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Suara takbir menggema dari surau-surau tua di kampung, bersahut-sahutan dengan denting piring di dapur rumah gadang. Di halaman, anak-anak berlarian dengan baju baru, sementara para ibu sibuk memastikan rendang tak kurang santan dan galamai tak kurang manis. Di Ranah Minang, Lebaran bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan. Ia adalah panggilan pulang.

Bagi perantau Minang, istilah pulang basamo bukan sekadar tradisi mudik. Ia adalah peristiwa batin, pertemuan kembali antara yang merantau dan yang menetap, antara anak nagari dan tanah kelahirannya. Di momen inilah jarak terbentang dari rantau ke kampung yang dibungkus oleh rindu.

Merantau telah lama menjadi denyut nadi masyarakat Minangkabau. Sejak berabad lalu, lelaki Minang meninggalkan kampung untuk mencari ilmu dan penghidupan. Dari pasar-pasar di Jawa hingga negeri jiran di Malaysia, jejak mereka tersebar luas. Namun sejauh apa pun kaki melangkah, akar tetap tertanam di ranah.

Lebaran menjadi waktu yang paling dinanti untuk kembali. Tiket perjalanan dipesan jauh-jauh hari. Grup keluarga di ponsel ramai oleh kabar kedatangan.

Di halaman rumah, pelukan menjadi bahasa pertama. Tak ada sekat antara yang sukses di kota besar dan yang bertani di kampung. Semua kembali menjadi anak, kemenakan, dan cucu.

Selepas salat Id, tradisi manjalang dimulai. Anak dan kemenakan mendatangi mamak, mertua, dan kerabat yang lebih tua. Di ruang tamu yang dipenuhi anyaman tikar pandan, tangan-tangan saling bersalaman, maaf diucapkan dengan lirih, dan doa dipanjatkan bersama.

Dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, hubungan antara mamak (paman dari garis ibu) dan kemenakan memiliki makna penting. Lebaran menjadi ruang untuk meneguhkan kembali peran itu. Di sinilah nasihat adat disampaikan, kabar rantau dibagikan, dan harapan masa depan dirajut.

Tak jarang, pertemuan Lebaran juga menjadi ajang musyawarah keluarga, membicarakan pendidikan anak, rencana membangun rumah, atau memperbaiki pusako. Di balik canda dan hidangan, ada ikatan sosial yang diperbarui.

Rendang, gulai tunjang, katupek sayua, hingga lamang tapai tersaji berderet. Namun bagi banyak perantau, rasa masakan kampung bukan sekadar soal bumbu. Ia adalah ingatan.

Di meja makan itulah cerita-cerita rantau mengalir. Tentang kerasnya hidup di kota, tentang peluang usaha, tentang anak-anak yang mulai fasih berbahasa Indonesia ketimbang Minang. Orang tua mendengarkan dengan bangga sekaligus cemas dan takut jika generasi berikutnya semakin jauh dari adat dan tradisi.

Lebaran menjadi jembatan agar bahasa ibu tetap terdengar, agar pepatah-petitih tak hilang ditelan waktu. Di sela tawa, terselip pengingat halus: sejauh apa pun merantau, pulanglah.

Bagi urang Minang, pulang basamo adalah cara merawat identitas. Di tengah arus modernitas dan mobilitas tinggi, momen ini menegaskan bahwa Minangkabau bukan hanya soal tempat, tetapi tentang nilai kebersamaan, hormat kepada yang tua, dan tanggung jawab kepada keluarga.

Ada haru ketika hari-hari Lebaran usai. Koper kembali dikemas. Terminal dan bandara dipenuhi lambaian tangan. Orang tua berdiri lebih lama di halaman, menatap jalan hingga kendaraan menghilang di tikungan.

Namun mereka tahu, seperti tahun-tahun sebelumnya, anak-anak itu akan kembali. Karena di hati setiap perantau Minang, selalu ada kompas yang menunjuk ke kampung halaman.

Lebaran mungkin hanya datang setahun sekali, tetapi makna pulang basamo hidup sepanjang waktu, mengikat ranah dan rantau dalam satu rasa: menjadi urang awak. (SG/YPA)

Rekomendasi Berita