Mengenal Sambas Mangundikarta, Legenda Penyiar Olahraga dari RRI
- 10 Sep 2026 21:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sambas Mangundikarta adalah penyiar olahraga legendaris yang pernah berkiprah di RRI dan populer di era 50-an, 60-an, bahkan hingga 80-an.
- Salah satu yang terkenal dari Sambas adalah suaranya yang khas ketika mewartakan pertandingan sepak bola maupum bulu tangkis.
- KPI menganugerahkan Lifetime Achievement atas dedikasi dan pengaruhnya dalam perkembangan penyiaran Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Radio Republik Indonesia (RRI) pernah memiliki penyiar olahraga yang legendaris era 50-an hingga 60-an. Sosok tersebut adalah Sambas Mangundikarta, yang suaranya selalu mencuri perhatian saat membawakan acara olahraga dan meliput di lapangan.
Sambas memang dikenal sebagai penyiar radio ulung. Melansir Komisi Penyiaran Indonesia, pria kelahiran lahir Bandung tersebut dahulu sering mewartakan pertandingan sepak bola hingga bulu tangkis.
Sebelum Sambas bergabung dengan RRI, ia telah lebih dulu mengenal dunia radio melalui Radio Perjuangan Jawa Barat. Ia mendirikan radio tersebut bersama Dr. Moestopo di Subang pada 1946.
Ia baru bergabung dengan RRI Bandung pada Agustus 1952 setelah sempat bekerja sebagai staf di Bank Escompto. Ia pernah juga ditugaskan di RRI Samarinda pada 1954–1955, lalu RRI Cirebon pada 1956–1958 sebelum akhirnya berlabuh di RRI Jakarta.
Kemampuan Sambas dalam mewartakan pertandingan olahraga menjadi salah satu daya tariknya selama ia berkarir di RRI. Suaranya yang khas serta pembawaannya mampu membawa pendengar seperti menyaksikan pertandingan secara langsung.
Salah satu tugas pentingnya, yaitu saat Indonesia menjadi tuan rumah Thomas Cup di Jakarta pada 1961. Sambas adalah satu dari dari tiga wartawan RRI yang meliput perjuangan Tan Joe Hok dan rekan-rekannya mempertahankan gelar juara.
Selain berkiprah di dunia penyiaran, Sambas juga memiliki karir lain, yaitu sebagai penyanyi dan pencipta lagu berbahasa Sunda. Beberapa karya terkenalnya seperti lagu 'Sapu Nyere Pegat Simpay', 'Manuk Dadali', dan 'Peuyeum Bandung'.
Sambas juga pernah mengikuti Bintang Radio Indonesia, ajang pencarian bakat yang didirikan RRI pada 1951. Ia berhasil mencapai babak final pada acara pertama dan sempat beberapa kali menjadi wakil daerah dalam kompetisi tersebut.
Kariernya kemudian berlanjut ke televisi setelah Sambas bergabung dengan TVRI pada awal 1960-an. Pengalamannya dalam dunia penyiaran olahraga membuatnya tetap aktif dalam meliput berbagai kompetisi olahraga internasional.
Sambas kerap menyapa pemirsa dengan sebutan populernya "saudara-saudara di Tanah Air". Hampir setiap saat ia membawakan acara pertandingan sepak bola di era 80-90an, sebutan itu selalu hadir.
Dedikasinya dalam dunia penyiaran membuatnya memperoleh penghargaan Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia pada Anugerah KPI 2022. Penghargaan tersebut merupakan sebuah bentuk apresiasi atas pengabdiannya terhadap perkembangan penyiaran di Indonesia.
Sambas meninggal dunia di Jakarta pada 30 Maret 1999 karena penyakit pernapasan. Sebelum tutup usia, Siaran terakhir yang ia bawakan adalah saat Piala Eropa di tahun 1996. (Shafira Nursyifa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....