'Manten Gethek' Jadikan Sungai Serayu Simbol Hubungan Manusia dan Alam
- 01 Sep 2026 22:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Manten Gethek adalah pertunjukan simbolik yang mempertemukan manusia, getek (rakit), dan sungai untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam.
- Acara dilaksanakan di Sungai Serayu, Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu, 29 Agustus 2026 sebagai bagian dari Bisik Serayu Festival 2026.
- Pertunjukan menampilkan sepasang pengantin laki-laki dan perempuan dalam busana pengantin yang diarak ke tepian sungai sebelum menaiki getek.
RRI.CO.ID, Jakarta – Sungai Serayu menjadi pusat pertunjukan simbolik Manten Gethek dalam kegiatan Bisik Serayu Festival 2026. Pertunjukan tersebut mempertemukan manusia, getek atau rakit, dan sungai melalui prosesi yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam.
Prosesi berlangsung di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026. Festival tersebut memperlihatkan sepasang laki-laki dan perempuan berbusana pengantin diarak menuju tepian sebelum menaiki getek.
Getek kemudian membawa keduanya perlahan menuju tengah Sungai Serayu sebagai bagian utama pertunjukan tersebut. Prosesi itu menjadi salah satu cara seniman membaca kembali hubungan masyarakat Banyumas dengan sungai Serayu.
Penggagas Bisik Serayu Festival 2026 Rianto menyebut Manten Getek sebagai pertunjukan berbasis air yang memvisualisasikan pernikahan suci. “Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan,” ucap Rianto dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 September 2026.
Rianto merupakan penari sekaligus koreografer Lengger Lanang Banyumas yang lahir dan tumbuh di Kaliori. Bersama istrinya, penari Jepang Miray Kawashima, ia kemudian mendirikan Dewandaru Dance Company di Tokyo.
Tahun ini, Dewandaru kembali tampil di Kaliori dalam festival yang menjadikan Serayu ruang perjumpaan. Festival tersebut juga menghadirkan seniman Prancis, Malaysia, Jepang, serta berbagai kelompok seni Banyumas.
Kehadiran seniman lintas negara memperlihatkan bagaimana festival mempertemukan pengalaman seni berbeda dengan lingkungan budaya masyarakat setempat. Namun, Sungai Serayu yang menjadi ruang pertunjukan memiliki hubungan jauh lebih panjang dengan masyarakat Banyumas.
Serayu sebagai Ruang Hidup
Sungai Serayu sendiri memiliki hubungan panjang dengan kehidupan masyarakat sepanjang wilayah alirannya. Sungai tersebut berhulu di Pegunungan Dieng, Wonosobo, melewati Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, kemudian menuju Cilacap sebelum bermuara menuju Samudra Hindia.
Sepanjang alirannya, Serayu selama ini menjadi bagian dari pertanian, permukiman, mobilitas, serta kehidupan masyarakat. Karena itu, sungai tersebut tidak hanya dipandang sebagai bentang alam, tetapi juga ruang hidup.
Hubungan tersebut juga tercermin dalam berbagai jejak kebudayaan masyarakat Banyumas sejak masa lalu. Dalam Serat Centhini, tercatat pertunjukan tayuban dan ronggèng dalam perjalanan Cebolang di Wirasaba.
Catatan jurnal kolonial 1886 juga menyebut keberadaan ronggèng Karsijah yang terkenal di Purbalingga. Pada masa berikutnya, gamelan dan terbang turut menjadi bagian kehidupan masyarakat pedesaan.
Kesenian masyarakat pada masa itu tidak selalu berlangsung di atas panggung khusus. Kesenian tumbuh bersamaan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di lingkungan pedesaan.
Salah satu contohnya terlihat melalui Kunclungan di Desa Plana yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat. Warga dahulu turun ke Serayu setelah bekerja untuk mandi dan beristirahat bersama.
Dari aktivitas tersebut kemudian muncul permainan bunyi melalui tepukan tangan pada permukaan air. Saat itu, sungai sekaligus menjadi ruang bertemu, bermain, beristirahat, dan menciptakan kesenian.
Bisik Serayu Membuka Kembali Hubungan
Di masa sekarang, Bisik Serayu mencoba membuka kembali hubungan tersebut melalui rangkaian kegiatan kebudayaan. Pada 2024, Kunclungan kembali diperkenalkan melalui rangkaian festival yang berlangsung di masyarakat.
Pada tahun berikutnya, sungai menjadi ruang ruwatan dan labuhan sekaligus pengingat Blabur Banyumas. Peristiwa tersebut merujuk banjir besar akibat meluapnya Sungai Serayu pada 1861.
Tahun ini, hubungan manusia dan sungai dirumuskan melalui pertunjukan Manten Gethek. Tradisi tersebut tidak ditempatkan sebagai bentuk masa lalu yang harus dipertahankan secara kaku.
Sebaliknya, festival membaca kembali simbol hubungan manusia dengan sungai melalui bentuk pertunjukan baru. Gethek yang dahulu digunakan menyeberangi sungai kini menjadi bagian dari prosesi mendekatkan manusia dengan air.
Rianto merumuskan festival melalui tiga pilar utama yang menjadi dasar rangkaian kegiatan. Ketiganya yakni Bisik Air atau Svara Tirta, Pijak Bumi atau Prajna Pertiwi, serta Temu Rasa atau Manunggaling Warga.
Festival juga mempertemukan kesenian lokal dengan seniman dari berbagai latar budaya. Kolaborasi tersebut melibatkan Dewandaru Dance Company, Rianto, Agung Gunawan, serta sejumlah kelompok seni lainnya.
Membaca Falsafah Banyumas
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah menilai Bisik Serayu memuat falsafah Banyumas yang kuat. Falsafah tersebut bertumpu pada Gunung Slamet, Sungai Serayu, serta karakter blakasuta masyarakat Banyumas.
“Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili. Serta Blakasuta mulang jujur,” kata Siti.
Menurutnya, Gunung Slamet mengajarkan keteguhan, sedangkan Serayu menggambarkan kemampuan untuk terus mengalir. Sementara itu, karakter blakasuta mengajarkan keberanian masyarakat untuk menyampaikan kejujuran.
Sementara itu, pegiat budaya Nisa Roiyasa menyebut Bisik Serayu sebagai ekspresi estetik masyarakat terhadap alam dan sungai. Menurutnya, Serayu telah lama menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Banyumas.
Ia melihat Banyumas memiliki dua ekosistem kebudayaan besar yang saling berkaitan. Kedua ekosistem tersebut, lanjutnya, adalah Gunung Slamet dan Sungai Serayu.
“Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi,” kata Nisa yang sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menyusun cerita lebih utuh mengenai peradaban Banyumas kuno. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dibaca melalui peninggalan, tetapi melalui hubungan manusia dengan lingkungan.
Tradisi yang Terus Bergerak
Bisik Serayu ini juga menunjukkan perjalanan Rianto yang bergerak antara Kaliori dan dunia internasional. Lengger Lanang membawanya dari Banyumas menuju Jepang sebelum kembali membawa pengalaman dan jejaring baru.
Perjalanan tersebut memperlihatkan tradisi lokal dapat berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan lingkungan asalnya. Tradisi justru menemukan bentuk baru ketika bertemu pengalaman, seniman, dan masyarakat berbeda.
Serayu telah menjadi bagian kehidupan masyarakat jauh sebelum festival kebudayaan hadir di sepanjang alirannya. Sungai tersebut pernah menjadi tempat bekerja, beristirahat, bermain, berdoa, bercerita, hingga menciptakan kesenian.
Melalui Manten Gethek, hubungan lama tersebut kembali dibicarakan menggunakan tubuh, bunyi, getek, dan ritual. Di Kaliori, Sungai Serayu tidak sekadar menjadi panggung, tetapi menjadi simbol yang dinikahkan antara manusia dan alam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....