Festival Muria Raya Perkuat Kolaborasi Seni Lintas Budaya
- 01 Sep 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Festival Muria Raya #6 mempertemukan seniman lintas negara, khususnya musisi Prancis dari Compagnie Kotekan dan seniman lokal Indonesia dalam kolaborasi seni budaya yang inovatif.
- Pertunjukan pembukaan menampilkan perpaduan unik antara gamelan tradisional dan instrumen musik Barat modern seperti saxophone, trombone, dan terompet.
- Kolaborasi melibatkan Gayam 16 Yogyakarta sebagai musisi gamelan lokal yang bermain bersama musisi Prancis di Desa Menawan, Kudus, menciptakan jembatan budaya antara Indonesia dan Prancis.
RRI.CO.ID, Kudus – Festival Muria Raya (FMR) mempertemukan seniman lintas negara dan masyarakat desa melalui kolaborasi seni yang terus berkembang. Rangkaian festival menghadirkan gamelan Prancis, kesenian Jepang, serta seniman lokal dalam perjalanan budaya yang mengelilingi kawasan Muria.
Belasan musisi Prancis dari Compagnie Kotekan memainkan gamelan bersama Gayam 16 Yogyakarta dalam pembukaan FMR #6. Pertunjukan tersebut memadukan gamelan dengan saxophone, trombone, serta terompet yang berlangsung di Desa Menawan, Kudus.
Kolaborasi lintas budaya tersebut dipimpin musisi dan komponis Jean-Pierre “Pawak” Goudard dari Compagnie Kotekan. Hubungannya dengan gamelan bermula ketika dirinya belajar gamelan di Bali sekitar 2000.
Setelah itu, Goudard membawa gamelan ke Prancis dan mengajak musisi, teman, serta murid mempelajarinya. “Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama,” kata Presiden Compagnie Kotekan Sarah Andrieu dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 September 2026.
Pembukaan festival ini juga menghadirkan komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus serta Yuta Kuroki dari Jepang. Yuta membawakan Kijin Kagura, tari ritual dari Shiiba, Miyazaki, dalam program residensi bersama masyarakat Muria.
Yuta merupakan keturunan penari Kagura dan mengikuti program residensi bersama seniman serta masyarakat Muria. Kehadirannya memperluas perjumpaan budaya yang dibangun Festival Muria Raya melalui kegiatan berbasis masyarakat.
FMR #6 ini berlangsung mulai dari 5-30 Agustus 2026 dengan perjalanan menuju sejumlah desa. Setelah diawali Desa Menawan, rangkaian berlanjut ke Desa Japan pada 21 Agustus melalui Tumapaking Cakra Manggilingan.
Rangkaian tersebut kemudian mencapai babak akhir di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati, pada 29-30 Agustus 2026. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari konsep festival yang mengelilingi Gunung Muria atau pradaksina.
Ketua Yayasan Festival Muria Raya Brian Trinanda K. Adi mengatakan Tepuk Gelang menggambarkan dua ujung yang bertemu membentuk sebuah lingkaran. Menurutnya, konsep tersebut menjadi simbol persaudaraan antarmanusia dan hubungan dengan alam.
“Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antar sesama manusia,” kata kandidat doktor di Amsterdam School for Cultural Analysis (ASCA), University of Amsterdam tersebut.
Perjalanan mengelilingi kawasan Muria menjadi bagian dari sejarah Festival Muria Raya sejak pertama berlangsung pada 2020. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan masyarakat se-Muria Raya melalui kegiatan kebudayaan.
Brian menyebut perjalanan tersebut sebagai perjalanan spiritual untuk menjaga ikatan persaudaraan masyarakat se-Muria Raya. Perjalanan budaya tersebut juga menjadi ruang perjumpaan antara seniman, masyarakat, dan berbagai pengetahuan lokal.
Di Desa Japan, proses tersebut berlangsung melalui kegiatan seni yang melibatkan masyarakat setempat. Shafira Onky Parasmita mengajarkan tembang macapat kepada anak-anak remaja Desa Japan.
Ia juga terlibat dalam musik untuk kolaborasi Yuta Kuroki bersama anak-anak sekolah dasar setempat. Seniman lokal Cucu Khabib Yahya juga turut tampil melalui wayang kulit Bedhol Kayon dan Tari Bujang Ganong.
Ia mengatakan perjumpaan dengan seniman lain membuatnya melihat kesenian sebagai ruang belajar dan dialog. Menurutnya, pengalaman tersebut memperluas pandangannya terhadap seni yang selama ini dijalani.
“Dari mereka saya belajar bahwa seni tidak semata-mata soal uang. Melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan,” ujarnya.
Di sisi lain, perjumpaan dalam festival juga memberikan pengaruh kepada pemuda Desa Japan, M. Choirul Anam. Ia memperoleh pengetahuan mengenai pengarsipan sejarah desa dan terdorong menelaah kondisi lingkungan sosialnya.
Eksperimen terhadap tradisi juga terlihat melalui Gatotkaca, Gamelan Total Kaca, yang kembali hadir dalam FMR #6. Karya tersebut dikembangkan melalui proses riset dan pengembangan organologi menggunakan material limbah kaca.
Limbah kaca tersebut dilebur dalam tungku khusus hingga dapat dikembangkan menjadi instrumen musik. Eksperimen tersebut mempertemukan pengetahuan gamelan dengan material yang tidak lazim digunakan.
Festival Muria Raya ini juga melibatkan seniman dari berbagai daerah melalui program Artists and Experts in Residence. Jejaring tersebut antara lain melibatkan Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad.
Pada 29-30 Agustus, berbagai proses kolaborasi dipresentasikan melalui Gelar Cakra Manggilingan di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo. Pameran tersebut menghadirkan karya dari program residensi, Bala-Bala Muria, serta para seniman kolaborator.
Pada rangkaian malam 29 Agustus menghadirkan sejumlah seniman dan kelompok dari berbagai daerah Indonesia. Sementara pada 30 Agustus, kegiatan berlanjut melalui Komunitas Mantra Gula Kelapa, Temu Cakap Desa, dan SVRNSA.
Festival juga membawa Prasastu, batu yang dipahat menggunakan Aksara Waja, sebagai salah satu penanda perjalanan. Batu tersebut menjadi simbol persaudaraan antara Festival Muria Raya dan masyarakat.
Tim Media Festival Muria Raya Maliyana Nur Rahma menilai festival tersebut tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Menurutnya, festival berkembang sebagai gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa.
“Festival Muria Raya bukan sekadar pertunjukan seni. Tetapi gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa,” ujarnya.
Maliyana menyebut setiap babak festival menjadi laboratorium perjumpaan sekaligus jembatan persaudaraan. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bekal untuk masa depan.
Enam edisi Festival Muria Raya menunjukkan perjalanan kebudayaan dapat berlangsung melalui berbagai bentuk perjumpaan. Gamelan Prancis bertemu musik modern, kesenian Jepang bertemu masyarakat Muria, dan gamelan dikembangkan menggunakan material kaca.
Festival Muria Raya menempatkan perjumpaan, karya, dialog, dan pengetahuan lokal sebagai bagian penting perjalanan kebudayaan. Putaran berikutnya menjadi ruang bagi masyarakat dan para seniman untuk meneruskan hubungan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....