Sejarah Wihara Dharma Bakti, Jejak Tertua Pecinan Jakarta
- 17 Feb 2026 16:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Wihara Dharma Bakti dikenal sebagai wihara tertua di Jakarta yang menyimpan jejak panjang sejarah Pecinan. Bangunan ini menjadi bagian penting perjalanan komunitas Tionghoa di kawasan Glodok, Jakarta Barat.
Wihara tersebut dibangun pada tahun 1650 oleh Letnan Tionghoa Kwee Hoen pada masa awal Batavia. Awalnya, tempat ibadah ini bernama Kwan Im Teng sebagai penghormatan kepada Dewi Welas Asih.
Pada tahun 1740, wihara ini turut terbakar dalam tragedi Geger Pecinan di Batavia. Peristiwa itu dipicu ketegangan dan persaingan dagang antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan komunitas Tionghoa.
Meski bangunan rusak akibat kebakaran, Patung Dewi Kwan Im berhasil diselamatkan dan tetap terawat hingga kini. Patung tersebut menjadi simbol keteguhan spiritual sekaligus saksi sejarah perjalanan wihara.
Setelah tragedi tersebut, Kapiten Oey Tjie membangun kembali wihara pada tahun 1755. Namanya kemudian berubah menjadi Jin De Yuan atau Kim Tek Le yang berarti Kebajikan Emas.
Masyarakat juga mengenalnya sebagai Kelenteng Petak Sembilan atau Wihara Dharma Bakti. Lokasinya berada di Jalan Kemenangan III Nomor 13, Glodok, Jakarta Barat.
Wihara ini berdiri di atas lahan sekitar 1.200 meter persegi dan termasuk kawasan Cagar Budaya Kota Tua. Selain patung utama Dewi Kwan Im, terdapat 26 patung dewa-dewi lain di dalamnya.
Pada tahun 2015, wihara kembali dilanda kebakaran yang diduga akibat kelalaian saat penyalaan lilin ibadah. Kebakaran tersebut menghanguskan sebagian besar bangunan dan menyisakan bagian tengah yang tetap utuh.
Kini, Wihara Dharma Bakti menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus spiritual di kawasan Pecinan Glodok. Keberadaannya mencerminkan perpaduan nilai sejarah, budaya, dan keyakinan yang tetap hidup hingga sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....