Ketahui Prosesi dan Filosofi di Balik Tarian Liong di Tahun Baru Imlek
- 17 Feb 2026 12:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Tarian liong menjadi salah satu pertunjukan paling dinantikan dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Atraksi ini tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menyimpan simbol dan filosofi mendalam dalam tradisi Tionghoa.
Kostum liong terdiri atas kepala naga berukuran besar dengan tubuh panjang menyerupai ekor yang diangkat menggunakan tiang. Panjang naga dapat bervariasi mulai dua meter hingga seratus meter, bahkan dalam tradisi tertentu mencapai lebih dari seribu meter.
Semakin panjang tubuh naga yang ditampilkan, dipercaya semakin besar pula keberuntungan yang dibawanya bagi masyarakat. Sambungan tubuh naga biasanya dibuat berjumlah ganjil seperti sembilan, sebelas, tiga belas, hingga dua puluh sembilan ruas.
Kostum liong umumnya dibuat dari bahan rumput, bambu, kertas, serta kain yang dirangkai secara teliti. Tubuh naga dibentuk melingkar menyerupai tabung dari ruas bambu tipis, lalu ditutup kain merah berhias sisik.
Para penari naga biasanya mengenakan celana panjang yang warnanya disesuaikan dengan tubuh naga agar terlihat serasi. Dalam tradisi setempat, tubuh naga disimpan di Kuil Raja Naga dan hanya dikeluarkan saat hari pertunjukan.
Prosesi dan Filosofi Tarian Naga
Prosesi pertunjukan diawali arak-arakan warga yang membawa spanduk dan bendera sambil menabuh genderang serta meniup terompet. Kepala dan ekor naga kemudian dihubungkan melalui upacara khusus yang dikenal sebagai “pertunjukan mata”.
Seorang penari memimpin jalannya pertunjukan dengan tongkat berujung bola besar yang disebut “Mutiara Kebijaksanaan”. Bola tersebut digerakkan ke berbagai arah, dan naga mengikutinya sebagai simbol upaya mengejar kebijaksanaan.
Gerakan tubuh naga membentuk gelombang panjang seolah sedang menari mengikuti irama tabuhan musik. Koreografi yang ditampilkan beragam, seperti “gua awan”, “pusaran air”, “pola tai chi”, “mengulir uang”, “mencari mutiara”, hingga “naga melingkari pilar”.
Setelah pertunjukan selesai, kepala dan ekor naga biasanya dibakar sebagai bagian dari tradisi simbolis. Sisa tubuh naga kemudian disimpan kembali di kuil untuk digunakan dalam perayaan tahun berikutnya.
Dalam sejumlah kesempatan, tim penari naga juga menerima jamuan hingga lima atau enam kali. Tradisi tersebut dikenal sebagai “naga sebagai ganti anggur” yang mencerminkan penghormatan masyarakat kepada para penari.
Sejak Hari Tahun Baru hingga Festival Lentera, tarian naga dapat disaksikan di berbagai wilayah China dan kawasan Pecinan dunia. Pertunjukan tersebut dipercaya mampu menakuti roh jahat sekaligus membawa keberuntungan bagi masyarakat yang menyaksikannya.
Seseorang yang tersentuh naga atau bahkan barongsai kerap dianggap memperoleh keberuntungan pada tahun yang baru. Keyakinan inilah yang membuat tarian naga selalu dinantikan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....