Grebeg Sudiro, Simbol Akulturasi Jawa dan Tionghoa
- 17 Feb 2026 11:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Grebeg Sudiro menjadi tradisi khas Solo menjelang perayaan Imlek setiap tahun. Tradisi ini tumbuh di kawasan Sudiroprajan yang dikenal sebagai Kampung Pecinan.
Ketua Yayasan Tien Kok Sie Sudiroprajan, Sumantri Dana Waluya, menjelaskan perayaan ini mulai digagas pada 2005. Inisiatif tersebut lahir dari Kelenteng Tien Kok Sie bersama warga setempat.
Ia menjelaskan, perayaan tersebut hadir setelah Presien BJ Habibie, mengeluarkan keputusan Presiden mengatakan hak-hak sipil orang Tionghoa dikembalikan. “Grebeg Sudiro itu tahun 2005 inisiatornya Kelenteng Tien Kok Sie bersama warga Sudiro Brajan,” ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu 15 Februari 2026.
Sejak saat itu, perayaan Imlek dapat digelar terbuka di ruang publik. Tradisi ini kemudian menjadi akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa.
Nama Grebeg diambil dari tradisi Grebeg Maulud Keraton Surakarta. Konsep gunungan kemudian diadaptasi sebagai simbol perpaduan budaya.
“Nama Grebeg diambil mengadopsi dari grebeg yang ada di keraton Surakarta, Grebeg Maulid. Itu kan ada gunungan nah disini juga kita mengambil tema gunungan juga,” ujarnya.
Gunungan pada Grebeg Sudiro berisi kue keranjang, hasil bumi, dan aneka jajanan pasar. Setelah diarak, isi gunungan dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud syukur.
Perayaan ini juga dimeriahkan kirab budaya dan pertunjukan kesenian. Barongsai tampil berdampingan dengan tari tradisional Jawa dalam satu panggung.
Lampion yang awalnya hanya puluhan kini menghiasi kawasan hingga ribuan jumlahnya. Suasana Pasar Gede dan sekitarnya pun berubah menjadi lautan merah saat Imlek.
Tak hanya warga lokal, wisatawan dari berbagai daerah turut hadir setiap tahun. Grebeg Sudiro pun masuk dalam agenda budaya unggulan Kota Solo.
Sumantri menegaskan, Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta tahunan. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan identitas Jawa dan Tionghoa dalam semangat kebersamaan.
“Kesenian, akulturasi antara Tionghoa dan semua suku yang ada di Indonesia. Grebeg Sudiro itu sampai sekarang dari tahun 2006 hingga sekarang sudah 20 tahun,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....