Jejak Akulturasi dan Harmoni Imlek dari Solo hingga Palembang
- 15 Feb 2026 18:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Tien Kok Sie Sudiroprajan, Sumantri Dana Waluya, menjelaskan sejarah Pecinan Solo. Kawasan ini berawal dari berdirinya Kelenteng Tien Kok Sie pada 1745.
“Kelenteng Tien Kok Sie dibangun pada tahun 1745 jadi sudah 281 tahun inilah cikal bakal dari pecinan yang ada di kota Surakarta. Zaman dahulu itu orang-orang Tionghoa yang datang dari Tiongkok Daratan kalau ke kota Solo selalu bermukim di sekitar Kelenteng Tien Kok Sie,” ucap Sumantri dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu 15 Februari 2026.
Lebih jauh ia menjelaskan, Kelenteng tersebut menjadi pusat bermukimnya warga Tionghoa di sekitar Kampung Balong dan Kepanjen. Sejak awal, kehidupan masyarakat Jawa dan Tionghoa terjalin harmonis tanpa sekat.
“Kampung Balong itu zaman dahulu kehidupan antara suku Jawa, Arab, India dan Tionghoa itu sangat harmonis dari sudah beratus tahun. Tidak ada perbedaan antara orang Tionghoa dan orang asli Indonesia,” ujarnya
Sumantri menjelaskan perayaan Grebeg Sudiro yang telah digagas sejak tahun 2005 bersama yayasan dan warga. “Grebek Sudiro itu tahun 2005 itu inisiatornya sebenarnya Kelenteng Tien Kok Sie bersama dengan warga Kelurahan Sudiro Brajan,”
Ia menjelaskan perayaan tersebut hadir setelah Presien BJ Habibie, mengeluarkan keputusan Presiden mengatakan hak-hak sipil orang Tionghoa dikembalikan. Tradisi ini juga menjadi akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa.
Grebeg Sudiro terinspirasi dari tradisi grebeg Keraton Surakarta dengan menghadirkan gunungan. Grebeg Sudiro berisi gunungan kue keranjang, hasil bumi, hingga aneka jajanan pasar.
“Nama Grebeg diambil mengadopsi dari gerbeg yang ada di keraton Surakarta, Grebeg Maulid. Itu kan ada gunungan nah disini juga kita mengambil tema gunungan juga,” ujarnya.
Sementara di Palembang, tradisi Imlek berpusat di Pagoda Pulau Kemaro. Pengurus Yayasan Toapekong Keramat Pulau Kemaro, Tjik Harun, menyebut pagoda dibangun pada 2005 dan selesai 2008.
“Kalau secara ritual, memang pagoda bagi orang Tionghoa sebagai salah satu tempat untuk menaruh Dewa-Dewa. Ada juga cerita bahwa pagoda itulah tempat para Dewa itu berkumpul di lantai atas pada saat mereka melakukan perjalanan,” ucap Tjik Harun.
Ia menjelaskan perayaan puncak di Pagoda Pulau Kemaro bukan saat Imlek, melainkan Cap Go Meh. Di Palembang, ritual digelar lebih awal dengan rangkaian kegiatan selama beberapa hari.
“Go Meh itu rangkaian penutup rangkaian penutup di awal tahun baru, di mana bulan pertama keluar di tahun itu. Uniknya di Palembang kalau Cap Go Meh kita bilangnya itu hari kelima belas, tapi di Palembang kita mainnya di tanggal 13 malam jadi lebih Capsame,” ujar Tjik Harun.
Salah satu tradisi khas adalah ritual tengah malam di depan Keramat Siti Fatimah. Prosesi ini mencerminkan pertemuan budaya Tionghoa dan Melayu yang hidup berdampingan.
Pulau Kemaro juga terbuka bagi wisatawan yang ingin menyaksikan perayaan. “Cap Go Meh itu terbuka, jadi masyarakat bisa datang. Bukan saja dari Palembang, tapi sudah mancanegara dan wisatawan lokal juga,” ujarnya
Baik di Solo maupun Palembang, perayaan Imlek bukan sekadar tradisi tahunan. Perayaan ini menjadi simbol kuat harmoni dan akulturasi budaya yang terus terjaga di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....