Tradisi Menyambut Malam Lailatul Qadar di Indonesia

  • 26 Feb 2026 09:58 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel – Pernahkah anda mendengar istilah Lailatul Qadar dibulan Ramadhan? Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan di bulan Ramadan yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, di mana Allah menurunkan Al-Qur'an dan para malaikat turun ke bumi. Malam ini dirahasiakan, namun dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir Ramadan, khususnya malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).

Malam Lailatul Qadar bukan sekadar momen spiritual yang hening, di Indonesia momen ini dirayakan dengan penuh warna melalui berbagai tradisi lokal yang unik. Mayoritas tradisi ini berpusat pada simbol cahaya (lampu/obor) dan sedekah makanan. Berikut adalah keragaman tradisi menyambut malam kemuliaan di berbagai daerah:

1. Tradisi Maleman & Likuran (Jawa & Madura)

Di kawasan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, terdapat tradisi Likuran (dari kata selikur atau dua puluh satu). Masyarakat merayakan malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Warga menyalakan dian (lampu minyak) di depan rumah dan sepanjang jalan desa. Cahaya obor melambangkan penyambutan datangnya malaikat dan keberkahan ke bumi dan biasanya disertai dengan pembagian nasi berkat atau kenduri di masjid setelah salat tarawih.

2. Tumbilotohe (Gorontalo)

Ini adalah salah satu festival cahaya terbesar di Indonesia. Nama Tumbilotohe secara harfiah berarti "menyalakan lampu". Ribuan lampu minyak (dahulu menggunakan getah damar) dipasang di tanah lapang, depan rumah, hingga membentuk formasi masjid atau kaligrafi. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-15. Kota Gorontalo akan terlihat sangat terang benderang saat malam ke-27 Ramadan.

3. Malam Selikur (Solo & Yogyakarta)

Keraton Surakarta dan Yogyakarta memiliki tradisi formal untuk menyambut malam ke-21. Kirab atau pawai obor yang membawa Tumpeng Sewu (seribu tumpeng). Sebagai bentuk syukur dan doa agar mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar. Tumpeng tersebut nantinya dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol sedekah raja kepada rakyatnya.

4. Ela-Ela (Ternate & Tidore)

Di Maluku Utara, tradisi menyambut Lailatul Qadar disebut dengan Ela-Ela diketahui masyarakat menyalakan obor bambu dan membakar kemenyan di depan rumah masing-masing setelah salat Isya. Aroma kemenyan dan cahaya obor dipercaya menciptakan suasana khusyuk untuk menyambut turunnya malaikat ke bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....