Kuliner Legendaris Ramadhan yang Selalu Dirindukan
- 20 Feb 2026 14:19 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Bulan Ramadhan bukan hanya menjadi momen spiritual penting bagi umat Muslim, tetapi juga waktu yang sangat dirindukan karena tradisi kuliner khas yang hanya hadir saat puasa. Di seluruh Nusantara, ada banyak makanan dan minuman legendaris yang selalu dinantikan ketika waktu berbuka tiba, memadukan rasa, sejarah, dan kenangan keluarga.
Salah satu yang paling ikonik adalah kolak hidangan manis berbasis santan dan gula aren yang sering berisi pisang, ubi, labu, atau biji salak. Kolak bukan sekadar makanan penutup: aromanya yang harum dan rasanya yang lembut menjadi pembuka yang sempurna setelah seharian berpuasa. Kehangatan kolak membantu mengembalikan energi perlahan dan menyiapkan perut untuk makanan selanjutnya. Di banyak rumah dan bazar Ramadhan, kolak menjadi simbol kebersamaan dan nostalgia akan suasana buka puasa bersama keluarga.
Tidak kalah populer adalah cincau, minuman segar dari jelly daun cincau yang biasanya disajikan dingin dengan santan dan sirup gula. Teksturnya yang lembut dan efeknya yang menyejukkan membuat cincau menjadi pilihan favorit saat berbuka, terutama di wilayah beriklim tropis.
Selain itu, blewah semacam melon manis yang dipotong tipis dan disajikan dengan es dan sirup menjadi pelengkap minuman buka puasa yang menyegarkan. Kandungan airnya membantu menghidrasi kembali tubuh setelah seharian tanpa asupan.
Takjil ramadhan juga identik dengan berbagai gorengan, seperti bakwan, tahu isi, atau tempe mendoan. Makanan goreng-gorengan ini hadir di hampir semua bazar dan warung saat maghrib, menjadi camilan gurih yang nikmat sebelum menikmati hidangan utama. Gorengan begitu akrab dengan pengalaman berbuka puasa masyarakat Indonesia karena memberikan rasa kenyang dan kepuasan instan setelah seharian berpuasa.
Dari sisi kuliner tradisional, berbagai daerah di Indonesia memiliki hidangan legendaris yang jarang ditemukan di luar bulan suci ini. Misalnya mi glosor dari Bogor, mi kenyal khas yang muncul di pasar Ramadhan setiap tahun; ketan bintul dari Banten yang sudah ada sejak abad ke-16; maupun bongko kopyor dari Gresik yang menghadirkan perpaduan sagu, buah, dan kelapa muda dalam daun pisang. Semua ini menguatkan bagaimana Ramadhan menjadi ajang perayaan kuliner lokal yang kaya dan beragam.
Selain itu, hidangan seperti barongko dari Makassar dan asida dari Maluku juga memberi warna berbeda di meja buka puasa. Barongko, olahan pisang, telur, dan santan yang dikukus dalam daun pisang, dan asida, puding manis berakar dari tradisi Timur Tengah, menunjukkan bagaimana pengaruh sejarah turut mewarnai hidangan Ramadhan di Indonesia.
Tradisi kuliner Ramadhan tidak hanya soal rasa, tetapi juga kenangan dan kebersamaan. Setiap suapan membawa ingatan pada keluarga, bazar malam yang ramai, dan momen saling berbagi di meja makan hal-hal yang membuat makanan Ramadhan menjadi lebih dari sekadar santapan lezat, tetapi bagian tak terpisahkan dari pengalaman spiritual bulanan itu sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....