Mengapa Kita Lebih Suka Makanan Favorit saat Stres?

  • 29 Agt 2026 06:26 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Saat sedang stres, sebagian orang justru merasa lebih ingin menyantap makanan favorit. Makanan manis, gorengan, mi, makanan cepat saji, atau makanan tertentu yang mengingatkan pada rumah sering terasa lebih menarik ketika pikiran sedang menghadapi tekanan. Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, yaitu kecenderungan makan sebagai respons terhadap emosi atau tekanan psikologis, bukan semata-mata karena lapar secara fisik.

Penelitian dari IPB University menunjukkan bahwa stres dan emotional eating merupakan dua hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kualitas pola makan. Dalam penelitian terhadap mahasiswa tingkat akhir IPB, peneliti mengkaji hubungan tingkat stres dan emotional eating dengan kualitas diet serta asupan zat gizi. Penelitian lain dari IPB juga menjelaskan bahwa emotional eating dapat menjadi salah satu strategi menghadapi stres yang berpotensi menyebabkan asupan makanan berlebihan.

Lalu, mengapa makanan favorit terasa semakin menggoda ketika stres?

Salah satu jawabannya berkaitan dengan sistem penghargaan di otak. Makanan yang rasanya sangat disukai, terutama makanan dengan kombinasi gula, lemak, dan rasa gurih, dapat memberikan sensasi menyenangkan. Kajian ilmiah mengenai hubungan stres, makanan, dan sistem penghargaan menjelaskan bahwa stres dapat berinteraksi dengan mekanisme hormonal dan sistem penghargaan otak sehingga pada sebagian orang meningkatkan ketertarikan terhadap makanan yang sangat lezat dan padat energi.

Faktor hormon juga ikut berperan. Ketika mengalami stres, tubuh mengaktifkan sistem respons stres yang melibatkan sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal atau HPA axis. Salah satu hormon yang berkaitan dengan respons tersebut adalah kortisol. Para peneliti menduga perubahan sistem stres ini dapat memengaruhi pengaturan nafsu makan dan nilai penghargaan yang kita berikan terhadap makanan. Namun, mekanisme tersebut tidak berarti bahwa setiap orang yang stres pasti akan makan lebih banyak.

Kenangan dan rasa nyaman juga dapat membuat makanan tertentu menjadi pilihan ketika sedang tertekan. Makanan favorit biasanya sudah memiliki hubungan dengan pengalaman positif. Misalnya, seseorang mungkin merasa lebih tenang setelah menikmati makanan yang dahulu sering disiapkan oleh orang tua. Karena itu, yang dicari ketika stres tidak selalu sekadar rasa kenyang, tetapi juga sensasi nyaman dan familiar.

Penelitian yang dipublikasikan di Physiology & Behavior menemukan bahwa pada orang yang memiliki kecenderungan emotional eating, kelezatan makanan dapat berhubungan dengan peningkatan kepuasan dan perbaikan suasana hati setelah makan. Artinya, makanan yang benar-benar disukai dapat terasa memberikan kenyamanan emosional bagi kelompok tertentu.

Namun, jangan menganggap bahwa makanan favorit pasti dapat menghilangkan stres. Penelitian lain justru menunjukkan bahwa efek makanan terhadap pemulihan stres tidak sesederhana itu. Dalam sebuah penelitian eksperimental, makanan yang dianggap sehat maupun tidak sehat tidak secara langsung menurunkan respons stres. Yang lebih berpengaruh adalah seberapa besar seseorang menyukai aktivitas atau makanan tersebut.

Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 54 penelitian dengan total lebih dari 119 ribu peserta menemukan bahwa stres memiliki hubungan kecil tetapi positif dengan peningkatan konsumsi makanan secara keseluruhan. Stres juga berkaitan dengan peningkatan konsumsi makanan yang kurang sehat dan penurunan konsumsi makanan sehat. Namun, para peneliti menekankan bahwa respons setiap orang berbeda.

Karena itu, makan makanan favorit ketika stres sesekali bukan berarti sesuatu yang buruk. Yang perlu diperhatikan adalah jika makanan terus-menerus dijadikan cara utama untuk mengatasi stres. Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang makan lebih sering atau memilih makanan tinggi kalori tanpa benar-benar memperhatikan rasa lapar dan kenyang.

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah mindful eating, yaitu makan dengan lebih sadar. Sebelum mengambil makanan, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar lapar, atau sedang merasa stres, bosan, sedih, atau membutuhkan kenyamanan?” Dengan mengenali pemicunya, kita dapat memilih cara lain untuk mengelola stres, seperti berjalan santai, berolahraga, mendengarkan musik, berbicara dengan orang terdekat, atau beristirahat.

Jadi, mengapa kita lebih suka makanan favorit saat stres? Karena stres dapat berinteraksi dengan sistem hormon, nafsu makan, sistem penghargaan otak, kebiasaan, dan pengalaman emosional terhadap makanan. Tetapi efeknya tidak sama pada setiap orang. Ada yang makan lebih banyak ketika stres, sementara yang lain justru kehilangan selera makan.

Yang terpenting bukan melarang diri menikmati makanan favorit, melainkan memahami kapan kita makan karena lapar dan kapan kita makan karena emosi. Kesadaran tersebut dapat membantu menjaga pola makan tetap seimbang sekaligus menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi stres.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....