Ulat Sagu: Pangan Tradisional Bernilai Gizi Tinggi dari Tanah Papua
- 24 Feb 2026 08:26 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Di wilayah Boven Digoel, terdapat satu pangan tradisional yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, yaitu ulat sagu. Bagi sebagian orang, tampilannya mungkin terasa tidak biasa. Namun bagi masyarakat Papua, ulat sagu bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi dan sumber gizi yang penting. Kehadirannya menyatu dengan alam serta budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Ulat sagu berasal dari batang pohon sagu yang telah ditebang dan dibiarkan membusuk secara alami. Dari proses itulah larva kumbang berkembang. Masyarakat setempat biasanya mengambil ulat sagu langsung dari batang sagu yang sudah lapuk. Cara pengolahannya pun beragam, ada yang dimakan mentah, dibakar, digoreng, hingga dimasak bersama bahan pangan lainnya. Setiap cara penyajian memiliki cita rasa khas yang disukai banyak orang di daerah tersebut.
Dari sisi kandungan gizi, ulat sagu dikenal kaya protein, lemak sehat, serta energi yang cukup tinggi. Kandungan ini sangat membantu memenuhi kebutuhan tubuh, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di hutan dan ladang. Selain itu, ulat sagu juga mengandung beberapa vitamin dan mineral yang baik untuk daya tahan tubuh. Tidak heran jika pangan ini tetap bertahan sebagai sumber makanan utama di beberapa kampung.
Lebih dari sekadar makanan, ulat sagu juga memiliki nilai sosial dan budaya. Proses mencarinya sering dilakukan bersama-sama, sehingga mempererat hubungan antarwarga. Dalam beberapa kesempatan adat, ulat sagu bahkan menjadi hidangan istimewa yang disajikan untuk tamu atau dalam perayaan tertentu. Tradisi ini menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar mengenyangkan perut.
Di tengah perkembangan zaman, ulat sagu mulai dikenal lebih luas sebagai salah satu alternatif sumber protein lokal. Banyak pihak melihat potensi pangan tradisional ini sebagai solusi berkelanjutan karena berasal dari alam dan dikelola secara sederhana. Dengan tetap menjaga kelestarian hutan sagu, masyarakat Papua membuktikan bahwa kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan kebutuhan gizi modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....