Kenapa Waktu Terasa Lama saat Sedang Menunggu?

  • 17 Sep 2026 22:00 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Pernahkah Anda merasa lima menit saat menunggu terasa seperti setengah jam? Anehnya, ketika sedang bersenang-senang atau sibuk melakukan sesuatu, waktu justru terasa berjalan begitu cepat. Padahal, waktu yang sebenarnya tetap berjalan dengan kecepatan yang sama. Perbedaannya terletak pada cara otak mempersepsikan waktu.

Saat menunggu, perhatian kita sering kali tertuju pada waktu itu sendiri. Kita melihat jam, memperhatikan layar ponsel, menghitung berapa lama lagi harus menunggu, atau terus bertanya dalam hati kapan sesuatu akan terjadi. Semakin sering perhatian diarahkan pada berlalunya waktu, semakin lama durasi tersebut dapat terasa.

Penelitian yang diterbitkan dalam Acta Psychologica menemukan bahwa kebosanan selama situasi menunggu berkaitan dengan perasaan bahwa waktu berjalan lebih lambat. Dalam penelitian tersebut, orang yang lebih memperhatikan waktu juga cenderung mengalami kebosanan yang lebih tinggi.

Kebosanan menjadi salah satu penyebab utama. Ketika tidak ada aktivitas yang cukup menarik untuk menyita perhatian, otak memiliki lebih sedikit rangsangan untuk diproses. Akibatnya, perhatian lebih mudah kembali kepada kondisi saat ini, termasuk memperhatikan lamanya waktu berlalu.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam kajian mengenai psikologi waktu yang diterbitkan di Frontiers in Psychology. Ketika beban pemrosesan informasi relatif rendah, kebosanan dapat muncul dan pengalaman subjektif terhadap waktu cenderung melambat.

Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika seseorang sangat ingin sesuatu segera terjadi. Misalnya, menunggu hasil pemeriksaan, menunggu seseorang datang, menunggu kendaraan, atau menantikan kabar penting. Karena ada tujuan yang ingin segera dicapai, perhatian menjadi lebih terfokus pada kapan penantian tersebut berakhir.

Sebaliknya, ketika perhatian terserap dalam aktivitas yang menyenangkan, seseorang cenderung tidak terlalu memperhatikan waktu. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Scientific Reports pada 2025 menemukan bahwa peserta yang hanya menunggu tanpa aktivitas merasa waktu berjalan lebih lambat dan mengalami kebosanan lebih tinggi dibandingkan peserta yang melakukan aktivitas selama periode menunggu.

Menariknya, waktu yang terasa lama tidak selalu berarti seseorang benar-benar menunggu lebih lama. Jam tetap menunjukkan durasi yang sama. Yang berubah adalah pengalaman subjektif terhadap durasi tersebut. Penelitian mengenai persepsi waktu menunjukkan bahwa konteks, perhatian, kondisi emosional, dan tingkat keterlibatan dalam suatu aktivitas dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap cepat atau lambatnya waktu.

Karena itu, salah satu cara agar waktu menunggu terasa lebih singkat adalah memberikan perhatian kepada aktivitas lain. Membaca, mendengarkan musik, berbincang, mengerjakan pekerjaan ringan, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dapat mengurangi perhatian terhadap waktu.

Namun, tidak semua bentuk menunggu harus diisi dengan kesibukan. Menunggu dalam suasana tenang juga dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat atau membiarkan pikiran berjalan tanpa tekanan. Yang membuat penantian terasa panjang sering kali bukan jumlah menitnya, melainkan seberapa besar perhatian kita tertuju pada menit-menit tersebut.

Jadi, ketika waktu terasa berjalan sangat lambat saat menunggu, sebenarnya bukan jam yang berubah. Otak kita sedang memberikan pengalaman berbeda terhadap waktu. Semakin bosan, semakin tidak memiliki aktivitas, dan semakin sering memperhatikan waktu, penantian dapat terasa semakin panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....