Mengapa Kita Sering Menguap meski Tidak Mengantuk
- 18 Agt 2026 16:38 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel: Menguap sering dianggap sebagai tanda seseorang sedang mengantuk atau kelelahan. Namun, kenyataannya kita bisa menguap meskipun merasa cukup tidur dan tidak sedang mengantuk. Menguap merupakan respons alami tubuh yang melibatkan gerakan membuka mulut lebar-lebar, menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya. Sampai sekarang, para peneliti belum menemukan satu alasan tunggal yang dapat menjelaskan seluruh fungsi menguap.
1. Tubuh Sedang Mengatur Tingkat Kewaspadaan
Salah satu penjelasan yang banyak dibahas adalah bahwa menguap berkaitan dengan perubahan tingkat kewaspadaan. Ketika seseorang berada dalam kondisi yang monoton, kurang mendapatkan rangsangan, atau mulai mengalami penurunan perhatian, menguap dapat muncul sebagai bagian dari respons tubuh untuk meningkatkan kewaspadaan.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa menguap tidak hanya dipicu oleh rasa lelah, tetapi juga dapat terjadi ketika seseorang merasa bosan, sedang bangun tidur, mengalami stres, atau menghadapi situasi tertentu yang membutuhkan perhatian.
| Baca juga: Cara Mengatur Pola Tidur Agar Tubuh Bugar |
2. Bukan Semata-Mata Karena Kekurangan Oksigen
Ada anggapan bahwa kita menguap karena tubuh kekurangan oksigen. Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh penelitian. Menguap memang melibatkan tarikan napas dalam dan pelebaran saluran napas, tetapi fungsi utamanya tidak dapat disederhanakan hanya sebagai usaha memasukkan lebih banyak oksigen ke tubuh.
Sebuah kajian mengenai fisiologi menguap menunjukkan bahwa mekanisme menguap jauh lebih kompleks dan melibatkan berbagai proses saraf serta otot.
3. Berkaitan dengan Suhu Otak
Teori lain menyebutkan bahwa menguap mungkin mempunyai hubungan dengan pengaturan suhu otak. Ketika menguap, terjadi perubahan aliran darah di sekitar kepala dan wajah serta proses pernapasan yang dapat berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu.
Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed/Frontiers in Neuroscience menemukan adanya bukti yang mendukung hubungan antara menguap dan termoregulasi. Meski demikian, teori mengenai fungsi pendinginan otak masih menjadi bahan penelitian dan belum dianggap sebagai satu-satunya penjelasan.
4. Menguap Bisa Menular
Pernahkah Anda ikut menguap setelah melihat orang lain menguap? Fenomena ini disebut contagious yawning atau menguap yang menular. Melihat, mendengar, bahkan memikirkan tentang menguap dapat memicu respons serupa pada sebagian orang.
Menurut PubMed, menguap menular merupakan fenomena yang cukup umum pada manusia. Namun, hubungan antara menguap menular dengan empati masih belum dapat dianggap sebagai kesimpulan pasti karena penelitian mengenai hal tersebut masih terus berkembang.
5. Kapan Perlu Diperhatikan?
Sesekali menguap meskipun tidak mengantuk umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika seseorang mengalami menguap secara berlebihan dan terus-menerus tanpa penyebab yang jelas, kondisi tersebut sebaiknya diperhatikan. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa menguap berlebihan dapat berkaitan dengan kurang tidur, gangguan tidur seperti sleep apnea, rasa kantuk berlebihan, penggunaan obat tertentu, maupun beberapa kondisi kesehatan.
Menguap ternyata bukan sekadar tanda bahwa seseorang mengantuk. Respons ini dapat berkaitan dengan kewaspadaan, kebosanan, stres, perubahan kondisi tubuh, interaksi sosial, hingga kemungkinan mekanisme pengaturan suhu otak. Jadi, menguap meskipun tidak mengantuk merupakan hal yang bisa terjadi secara normal. Yang perlu diperhatikan adalah apabila frekuensinya meningkat secara tidak biasa dan disertai keluhan lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....