Kitolod Gulma Liar Berbunga Putih yang Sering Dipakai dalam Ramuan Tradisional

  • 26 Apr 2026 08:53 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Di balik rupanya yang cantik dengan mahkota putih menyerupai bintang, tanaman liar yang akrab disebut Kitolod (Isotoma longiflora) menyimpan dua sisi mata pisang. Sering dianggap sebagai gulma pengganggu di pinggir sawah atau saluran air, tanaman ini juga memiliki reputasi panjang sebagai ramuan herbal dalam pengobatan tradisional Nusantara.

Namun, dibalik manfaatnya yang melimpah, para ahli kesehatan mengingatkan agar tidak sembarangan mengolah tanaman ini karena getah putihnya mengandung racun yang dapat berbahaya bagi mata dan kulit.

Tanaman ini mudah dijumpai di dataran rendah hingga ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Cirinya cukup khas, yaitu batang tegak bergetah, daun tunggal berbentuk lanset dengan tepi bergerigi, serta bunga berwarna putih bersih yang bentuknya melebar seperti bintang .

Nama latinnya terdengar eksotis, namun di berbagai daerah Indonesia, tanaman ini memiliki sebutan yang beragam. Masyarakat mengenalnya sebagai daun tolod, sangkobak, hingga korenjat . Tanaman yang berasal dari kawasan Hindia Barat ini kini telah naturalisasi dan tumbuh subur di iklim tropis seperti Indonesia.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kitolod bukanlah tanaman sembarangan. Dalam pengobatan tradisional, hampir seluruh bagian tanaman ini dimanfaatkan. Daunnya dipercaya mampu meredakan sakit gigi berkat sifat antiradangnya serta mengobati luka .

Sementara bunganya kerap digunakan untuk mengatasi gejala radang tenggorokan dan bronkitis, beberapa penelitian laboratorium juga mendukung klaim antibakteri. Namun, ada satu hal krusial yang wajib diketahui masyarakat.

Kitolod mengandung getah putih yang beracun. Ekstrak heksan yang bersifat non-polar dari tanaman ini memang menunjukkan potensi farmakologi, namun konsumsi atau aplikasi yang tidak tepat dapat berbahaya.

Kitolod adalah bukti bahwa alam menyediakan apotek yang luar biasa. Namun, seperti halnya obat kuat, ia memerlukan pengolahan dan dosis yang tepat. Tanaman ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat modern setelah melalui proses ekstraksi dan standardisasi di laboratorium.

Untuk saat ini, masyarakat disarankan tidak melakukan pengobatan mandiri terutama untuk pengobatan mata. Alih-alih sembuh, risiko kebutaan justru mengintai. Tetaplah konsultasikan dengan tenaga medis profesional sebelum menggunakan tanaman herbal ini sebagai terapi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....