Kisah Ibu Kristina, Puasa Penuh Pengendalian Diri

  • 21 Feb 2026 08:42 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel – Masa Prapaskah menjadi waktu refleksi iman bagi umat Katolik di Boven Digoel. Selama empat puluh hari, umat diajak untuk berpuasa dan berpantang sebagai bentuk pertobatan dan pengendalian diri. Masa tobat bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Ibu Kristina, seorang guru katekese dan prodiakon mengatakan memasuki masa Prapaskah menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus melihat kembali kehidupan sehari-hari. Ia mengaku, bagian yang terasa paling berat dalam puasa bukanlah soal makanan, tetapi mengendalikan diri dalam kebiasaan sehari-hari.

“Puasa itu bukan hanya soal makan. Kadang kita makan berlebihan sampai lupa berbagi dengan sesama. Kita punya berkat lebih, tapi tidak pernah membagi kepada mereka yang membutuhkan,” ungkap kristina, Jumat, 20 Februari 2026.

Ia menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan. Selama masa tobat, ia berkomitmen untuk lebih banyak berbuat baik kepada keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar. Bukan hanya memberi ketika ada rezeki lebih, tetapi juga meluangkan waktu untuk berkunjung dan berbagi cerita.

“Kadang kita marah kepada anak, tapi di masa tobat ini kita belajar merendahkan diri. Setelah berdoa, kita harus punya niat untuk lebih banyak berinteraksi, lebih banyak komunikasi. Kalau lama tidak berjumpa, kita datang berkunjung. Berkunjung itu cara sederhana untuk menghibur dan berbagi pengalaman,” jelasnya.

Ia juga menambahkan pentingnya mengingat asal-usul dan nilai-nilai keluarga yang diwariskan orang tua. Menurutnya, mengenal silsilah dan perjalanan iman keluarga membantu umat semakin memahami karya Tuhan dalam hidup mereka.

Bagi Kristina, puasa lebih dari empat puluh hari bukanlah hitungan waktu semata, tetapi proses membangun komitmen hati. Puasa menjadi latihan untuk merendahkan diri, berbagi dengan sesama, dan menjadikan iman sebagai tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui refleksi sederhana namun mendalam, Kristina berharap umat Katolik di Boven Digoel dapat menjalani masa Prapaskah dengan lebih bermakna, bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga batiniah.

Rekomendasi Berita