Kemandirian Remaja Lewat Sapu Lidi
- 06 Des 2025 07:47 WIB
- Bovendigoel
KBRN,Boven Digoel: Di sebuah rumah sederhana di Boven Digoel, seorang siswi SMP berusia 14 tahun menunjukkan betapa besar arti kerja keras di usia muda. Tina Firimburop, siswi kelas 8 SMPN 1 Tanah Merah, bukan hanya fokus pada pelajaran di sekolah, tetapi juga telah memutuskan untuk mandiri dengan cara yang sederhana namun penuh makna membuat sapu lidi.
Setiap sepulang sekolah, Tina tidak langsung beristirahat atau bermain seperti teman-temannya. Ia memiliki rutinitas yang berbeda. Dengan semangat yang tak kenal lelah, Tina mengumpulkan daun kelapa kering di sekitar rumah. Dengan tangannya yang cekatan, ia membersihkan dan memisahkan lidi dari daun kelapa, lalu merangkainya menjadi sapu yang kuat dan rapi. Sapu lidi buatan tangannya kemudian dijual ke pasar oleh kakaknya.
"Sapu ini saya buat sendiri. Kalau sudah selesai, saya titipkan ke kakak di Pasar Titik Nol. Sekarang tinggal dua sapu yang belum laku. Kalau habis, saya buat lagi setelah pulang sekolah," ungkap Tina
Bahan baku untuk membuat sapu lidi biasanya tersedia ketika kakak laki-lakinya membersihkan pohon kelapa di halaman rumah. Setiap bulan, dahan-dahan kelapa dipotong, dan Tina pun memanfaatkan setiap daun yang jatuh untuk dibuat menjadi sapu. Meskipun kini banyak orang lebih memilih sapu dari pabrik yang lebih praktis, Tina tetap setia dengan usahanya yang sederhana ini.
"Kalau ada pesanan, baru kakak saya bersihkan dahan kelapa lagi, lalu saya buat sapu baru," tambahnya. Dalam sehari, Tina bisa membuat antara 10 hingga 20 ikat sapu untuk dijual.
Satu ikat sapu lidi yang dibuat Tina dijual dengan harga Rp10.000. Walaupun nominalnya kecil, Tina menganggapnya sangat berarti. Dari uang hasil penjualan sapu ini, ia bisa membeli uang jajan, kebutuhan sekolah, dan bahkan pernah membantu mamanya membayar uang sekolah.
"Walaupun sekarang penjual sapu lidi sudah sedikit, karena banyak orang lebih memilih sapu pabrik, saya tetap buat sapu lidi. Pasti ada yang beli. Kalau habis, bisa saja sampai tiga bulan, tapi saya tetap sabar dan terus buat sapu. Berkat itu, Tuhan sudah atur semuanya," tambah Tina.
Di balik usaha sederhana ini, Tina menunjukkan semangat dan ketekunan yang jarang dimiliki anak seusianya. Di saat teman-temannya mungkin sibuk bermain atau beristirahat, Tina memilih untuk bekerja keras, menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk tidak bertanggung jawab dan berkontribusi pada keluarga.
Kisah Tina bukan hanya tentang membuat sapu lidi, tetapi juga tentang semangat untuk tidak menyerah, kerja keras, dan keinginan untuk berbagi beban dengan orang tua. ini menggambarkan bagaimana kehidupan sederhana bisa penuh dengan makna dan bagaimana seorang remaja yang masih muda sudah bisa mengambil tanggung jawab dalam kehidupan keluarganya.