Pelestarian Busana Adat Wambon Melalui UMKM Lokal

  • 30 Agt 2026 08:08 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Upaya melestarikan budaya lokal terus dilakukan masyarakat Kabupaten Boven Digoel melalui pengembangan usaha berbasis kearifan lokal. Salah satunya dilakukan Sarabeka Omba yang mengembangkan busana adat khas masyarakat Suku Wambon atau Mandobo melalui UMKM.

Sarabeka mengatakan, usaha yang dijalankannya berawal dari keprihatinan melihat generasi muda yang mulai kurang berminat menggunakan maupun mempelajari busana adat asli masyarakat Wambon.

"Saya melihat generasi saat ini sudah tidak terlalu berminat untuk mengangkat busana asli kami. Karena itu, selagi masih ada orang tua yang sudah belajar dan mengetahui budaya ini, kita patut terus belajar dan melestarikannya," ujar Sarabeka, Kamis 27 Agustus 2026.

Menurutnya, busana adat bukan hanya pakaian, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. "

Selagi orang tua kita masih ada, kita harus belajar dari mereka, sehingga generasi kita nanti bisa meneruskan warisan budaya yang sudah ada," katanya.

Berbagai produk busana adat kini dikembangkan Sarabeka, mulai dari cawat khas Wambon, rok adat bagi perempuan, mahkota atau ikat kepala, topi kepala, hingga selendang bayi yang dibuat dari kulit melinjo.

Selain busana, ia juga memproduksi berbagai aksesori, seperti tusuk konde, anting, serta aksesori lainnya yang menggunakan bahan dan unsur khas budaya setempat.

Sarabeka menegaskan, dalam mengembangkan produknya, ia tetap mempertahankan ciri khas masyarakat Wambon atau Mandobo. "Saya padukan, tetapi tidak menghilangkan ciri khas kami, khususnya orang Wambon atau Mandobo. Jadi, identitas budaya tetap ada dalam setiap busana dan aksesori yang kami buat," jelasnya.

Bagi Sarabeka, usaha tersebut tidak hanya bertujuan memperoleh penghasilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan dan keterampilan tradisional agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Ia juga membuka diri untuk berbagi ilmu kepada masyarakat yang ingin mempelajari pembuatan busana adat. Sejumlah teman bahkan datang untuk belajar membuat cawat, mahkota maupun ikat kepala.

"Saya tidak menutup kemungkinan untuk berbagi ilmu. Ada teman-teman yang datang untuk belajar bagaimana membuat cawat, bagaimana membuat mahkota atau ikat kepala," ungkapnya.

Sarabeka mengaku tidak keberatan berbagi pengetahuan karena menurutnya pelestarian budaya harus dilakukan secara bersama-sama. "Saya terbuka karena saya juga masih belajar. Kita harus sama-sama belajar, karena selagi orang tua masih ada, kita harus belajar dari mereka," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap para pelaku usaha yang mengembangkan potensi dan hasil karya lokal, khususnya yang bergerak di bidang budaya. "Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan hasil karya dan potensi lokal yang ada, sehingga kami bisa diberdayakan sebagai UMKM lokal," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....