Karnaval Kemerdekaan Buka Peluang Usaha Rumahan Kerajinan Wambon

  • 14 Agt 2026 06:00 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Perayaan Karnaval Kemerdekaan tidak hanya menjadi ajang bagi masyarakat Kabupaten Boven Digoel untuk menampilkan kreativitas dan semangat nasionalisme, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) rumahan.

Peluang tersebut turut dirasakan Sarabeka Omba dan sang mama, Aplonia Alimotop, melalui usaha kerajinan Lanu Wambon yang telah memiliki surat izin usaha. Keduanya memproduksi berbagai aksesori dan perlengkapan tradisional yang dapat digunakan masyarakat dalam karnaval maupun berbagai kegiatan lainnya.

Pada Karnaval Kemerdekaan 10 Agustus 2026, sejumlah aksesori hasil kerajinan Lanu Wambon disewakan kepada masyarakat yang membutuhkan perlengkapan tradisional untuk mengikuti karnaval.

Tidak hanya untuk karnaval, aksesori tersebut juga diminati untuk berbagai kegiatan lain, seperti pesta pernikahan, pameran, dan kegiatan budaya. Sistem sewa menjadi salah satu peluang bagi usaha rumahan tersebut untuk memperoleh pendapatan sekaligus memperkenalkan kerajinan tradisional kepada masyarakat.

“Yang banyak disewa itu topi kepala dan baju noken. Masyarakat mengambil aksesori ini untuk dipakai dalam kegiatan karnaval. Selain karnaval, ada juga yang menyewa untuk acara pernikahan dan kegiatan lainnya,” ujar Sara, Senin 10 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, harga sewa dan harga jual kerajinan disesuaikan dengan motif, bahan, dan tingkat kerumitan pembuatannya. Untuk aksesori dengan motif tertentu, harga sewa mulai sekitar Rp50 ribu, sedangkan harga jual dapat mencapai Rp500 ribu.

Sementara untuk kerajinan dengan motif yang lebih bagus dan proses pembuatan yang lebih rumit, harga sewanya dapat mencapai sekitar Rp100 ribu, sedangkan harga jualnya bisa mencapai Rp1 juta.

Menurut Sarabeka, perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan nilai dan kualitas masing-masing kerajinan.

Tingginya minat masyarakat terhadap aksesori tradisional menjadi peluang bagi para pengrajin untuk terus mengembangkan usaha. Namun, bagi Sarabeka, kerajinan tradisional tidak semata-mata bernilai ekonomi, melainkan juga merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga.

Karena itu, ia mengajak para pengrajin, terutama kaum ibu dan generasi muda, untuk tetap mempertahankan penggunaan bahan-bahan lokal dalam menghasilkan kerajinan tradisional Boven Digoel.

“Teman-teman dan ibu-ibu yang mempunyai aksesori budaya, jangan sampai budaya Boven Digoel hilang. Kalau kita merajut baju, membuat topi kepala atau konde rambut, kita bisa menggunakan bahan dari alam. Kita boleh menggunakan bahan dari luar, tetapi bahan lokal harus tetap dipertahankan agar tidak punah. Sekarang sudah banyak yang memodifikasi dengan model dari luar,” katanya.

Sarabeka juga berharap keterampilan membuat kerajinan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia bahkan mengajak anak-anak untuk mengenal langsung bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan aksesori budaya, sehingga mereka tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga memahami proses pembuatannya.

“Jangan sampai ilmu ini hilang hanya di kita sebagai pengrajin. Kalau bisa, ilmu merajut dan membuat kerajinan diajarkan terlebih dahulu kepada anak-anak kita. Saya juga ajak mereka mencari bahan supaya anak-anak tahu bahan apa yang digunakan untuk membuat aksesori budaya ini, baru kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang di luar. Supaya keterampilan dan budaya ini tidak punah,” harapnya.

Usaha kerajinan Lanu Wambon menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan masyarakat, seperti Karnaval Kemerdekaan, dapat membuka ruang bagi UMKM rumahan untuk berkembang. Di sisi lain, pemanfaatan aksesori tradisional dalam berbagai kegiatan turut memperkenalkan dan menjaga keberadaan budaya lokal Boven Digoel.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....