UMKM Air Minum Bertahan Lewat Kekuatan Keluarga

  • 30 Sep 2025 19:00 WIB
  •  Bovendigoel

KBRN, Boven Digoel: Kebutuhan air bersih terus menjadi persoalan penting. Hal ini mendorong tumbuhnya berbagai usaha air minum isi ulang, termasuk depot milik Ibu Anita (28), yang kini menjadi sumber penghidupan utama keluarganya secara berkelanjutan.

Usaha ini mulai dirintis sejak tahun 2000, berawal dari kios sembako milik kakaknya. Saat itu, sang kakak masih bekerja sebagai karyawan bersama atasannya, yang kemudian turut merintis depot “air galon Sehat bandar”. Setelah pemilik awal kembali ke kampung halaman, usaha ini diserahkan sepenuhnya kepada keluarga. Kini, Ibu Anita bersama suami dan anaknya mengelola langsung depot tersebut. Sang kakak yang tinggal di Merauke sesekali datang untuk memantau dan menerima laporan rutin.

“Waktu itu banyak orang cari air yang bisa langsung diminum. Jadi kakak saya dan bosnya waktu itu mulai buka depot ini, sekalian lanjut usaha kios. Karena memang banyak warga yang butuh,” ujar Ibu Anita saat ditemui di lokasi usahanya.

Saat ini, depot air sehat bandara melayani 40 hingga 50 galon air setiap hari. Proses penyediaan air dilakukan secara ketat: air diambil dari sumur, ditampung selama dua hingga tiga hari di dalam tong besar, lalu dimasak menggunakan alat pemanas khusus. Setelah itu, air diisi ke galon pelanggan yang sebelumnya telah dicuci menggunakan sabun dan dibilas air bersih hingga steril.

“Kami tunggu pelanggan datang langsung, atau mereka pesan lewat telepon dan WhatsApp. Cukup sebut nama dan alamat, kami sudah hafal. Semua pesanan kami catat di buku, dan langsung kami antar. Harga satu galon Rp10.000. Penghasilan harian antara Rp400.000 sampai Rp500.000, dan semua kami laporkan ke kakak sebagai pemilik utama,” jelasnya.

Dalam menjalankan operasional, Ibu Anita dibantu oleh suaminya dan seorang anggota keluarga yang dibawa dari kampung halaman. Mereka membagi tugas: dari mencuci galon, memasak air, hingga melakukan pengantaran ke rumah-rumah pelanggan menggunakan sepeda motor.

“Kadang ada pelanggan yang marah kalau pengantaran lambat. Tapi kami cuma dua orang yang antar, jadi memang butuh waktu. Meski begitu, kami tetap layani karena tahu ini kebutuhan pokok,” tambahnya.

Kini, depot ini beroperasi di dua titik, yaitu lokasi utama di kawasan Bandara dan satu cabang di jalan Trans Papua Kilometer 3 Perumahan. Meski persaingan usaha air minum isi ulang di Tanah Merah semakin ketat, Ibu Anita memilih tetap konsisten menjalankan usahanya dengan mengutamakan kualitas air dan kepuasan pelanggan.

“Bagi saya, usaha ini tidak harus besar. Yang penting bisa cukup untuk kebutuhan keluarga, bantu biaya sekolah anak-anak, dan pelanggan tetap puas. Ini sudah menopang keluarga kami,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....