Modal Usaha Kurang Hambat UMKM Mama-Mama Papua
- 30 Sep 2025 14:37 WIB
- Bovendigoel
KBRN, Boven Digoel: Modal usaha sekecil apa pun, menjadi dasar penting dalam membangun harapan hidup terutama bagi pelaku usaha mikro di wilayah pedalaman Papua. Hal ini tercermin dari perjuangan Mama Yolenta Yembui, yang akrab disapa Mama Yolen seorang pedagang sayur di Pasar Mumanja Kowa Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel.
Setiap hari, sejak pagi buta Mama Yolen terlihat sibuk menata dagangannya di atas meja kayu sederhana. Ia menjual hasil kebun seperti sayuran, bumbu dapur seperti serai dan lengkuas, singkong serta buah - buahan . Barang dagangan tersebut sebagian ia beli dari petani lain di pasar, dan sebagian lagi dibawa langsung dari kebun miliknya.
Bagi Mama Yolen, berdagang bukan sekadar mata pencaharian. Ini adalah bentuk pengorbanan demi menyekolahkan anaknya yang kini menempuh pendidikan di Jayapura.
"Kalau dapat seratus ribu, dua ratus ribu, saya langsung kirim ke anak di Jayapura. Saya tidak makan tidak apa-apa, yang penting anak sekolah dulu," ungkapnya.
Seiring waktu, tren konsumsi masyarakat mulai berubah. Makanan lokal seperti keladi, singkong, dan pisang semakin diminati, terutama oleh para ibu rumah tangga yang mengolahnya menjadi berbagai produk rumahan dan dijual secara daring (online). Namun, Mama Yolen dan pedagang kecil lainnya belum dapat memaksimalkan peluang tersebut karena keterbatasan modal.
“Geladi (keladi) yang besar dan bagus itu mahal, banyak orang cari. Tapi kami tidak punya modal besar untuk beli dan stok seperti itu. Padahal kalau kami bisa jual itu, pasti bisa untung,” jelasnya.
Sebaliknya, barang dagangan seperti sayuran, buah, dan bumbu dapur seperti serai dan lengkuas serta buah- buahan justru sulit laku dan sering kali tidak memberikan keuntungan.
“Kalau jual sayur, buah-buahan, serta bumbu dapur seperti serai dan lengkuas saja, tidak cukup untungnya. Sekarang orang cari makan lokal. Keladi, singkong, dan pisang cepat habis,” tambah Mama Yolen.
Perjuangan ini ia jalani setiap hari di pasar tradisional seperti Pasar Mumanja Kowa dan Pasar Titik nol. Namun, menurunnya jumlah pembeli menjadi tantangan tersendiri. Tak jarang, ia duduk menjaga dagangannya dari pagi hingga sore tanpa satu pun barang terjual.
“Dari pagi sampai sore jualan, kadang tidak laku. Tapi bagaimana? Kami makan dari hasil jualan ini. Besok turun pasar lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski dihadapkan pada berbagai kesulitan, Mama Yolen tetap semangat. Ia berharap pasar tradisional kembali hidup, dan pelaku UMKM seperti dirinya dapat memperoleh akses modal yang layak untuk mengembangkan usaha. “Sekarang mama-mama juga jual bantu anak, bantu suami. Harapan kami, pasar hidup lagi, pembeli datang lagi,” tutupnya
Di tengah minimnya modal dan menurunnya aktivitas pasar, semangat dan ketekunan tetap menjadi modal utama dalam membangun harapan. Dukungan nyata terhadap UMKM mama-mama Papua sangat dibutuhkan agar ekonomi rakyat tetap bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan.