Tradisi Bakar Batu Simbol Perdamaian di Papua

  • 29 Mei 2024 21:26 WIB
  •  Bovendigoel

KBRN, Boven Digoel: Indonesia dengan keberagaman suku, adat dan budaya tentu pernah mengalami pertikaian antara satu suku dengan suku lainnya, dan berujung pada perdamaian dengan tradisi perdamaian yang berbeda-beda.

Di Papua tanda perdamaian kerap di buat suatu upacara dengan istilah “tradisi Bakar Batu”. Bakar batu merupakan tradisi suku Dani di Pegunungan Tengah Papua, lazimnya disebut Barapen. Penyebutannya berbeda-beda tiap suku misalnya, Suku Lani menyebut Lago Lakwi, di Wamena menyebut istilah Bakar Batu kit oba isago, dan di Paniai Menyebut Mogo gapil.

Diketahui kegiatan bakar batu melibatkan Masyarakat banyak dengan tugas masing-masing seperti membawa sayur-sayuran, rumput, batu serta Sebagian juga menyiapkan lubang. setelah semua persiapan sudah dilakukan hingga pemotongan daging maka dilakukan pembakaran.

Batu-batu yang sudah membara di atas kayu bakar kemudian dimasukan lubang sedalam kurang lebih 50 cm yang sudah dialasi rumput. Di atas batu Kembali dimasukan rumput atau sayuran menyusul daging, ubi dan pisang. Jika semua sudah masuk maka ditutup Kembali dengan sayuran dan rumput. Sebagai pengikat biasanya batu Kembali diletakan diatasnya.

Pada umumnya sambil menunggu daging matang, mereka mendengarkan pidato baik dari Bupati atau Tokoh masyarakat setempat. Sesaat pidato usai Sebagian membongkar Kembali lubang bakar batu dan dijamu untuk dinikmati oleh seluruh Masyarakat.

Pembagiannya juga terdapat aturan, yang mana para perwakilan kelompok yang akan maju mengambil jatah untuk kelompoknya terus berulang hingga semua anggota kelompok mendapat jatah.

Dalam tradisi satu ini terdapat makna yang sangat mendalam yakni sebagai ungkapan Syukur pada Tuhan symbol solidaritas yang kuat, sebagai alat silahturahmi bahkan menjadi media perdamaian antar kelompok yang berperang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....