Hari Remaja Internasional, Generasi Muda Diajak Lawan Kekerasan Berbasis Gender
- 12 Agt 2026 18:34 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel–Memperingati Hari Remaja Internasional yang jatuh pada 12 Agustus 2026, Direktur Perkumpulan Lembaga Advokasi Peduli Perempuan (LAPER), Beatrix Gebze, mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menciptakan ruang digital yang aman, ramah, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Beatrix menjelaskan, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) merupakan tindakan kekerasan yang terjadi di ruang digital, namun dampaknya dapat merembet hingga kehidupan nyata. Bentuknya beragam, mulai dari pelecehan, penyebaran foto atau data pribadi tanpa izin, ancaman, hingga ujaran kebencian berbasis gender.
“Remaja merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak ini, namun sekaligus memegang peran besar untuk menjadi pelaku perubahan,” ujar Beatrix.
Menurutnya, KBGO dapat berdampak serius terhadap masa depan generasi muda. Korban tidak hanya dapat kehilangan kepercayaan diri, tetapi juga mengalami gangguan dalam pendidikan hingga trauma berkepanjangan.
“Dunia maya adalah milik kita semua. Jika kita tidak menjaganya, yang tumbuh bukanlah kreativitas, melainkan rasa takut. Padahal, satu unggahan yang baik atau satu tindakan saling mendukung sudah cukup menjadi benteng yang kuat melawan kekerasan,” tegasnya.
Ia juga membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah KBGO. Di antaranya berpikir matang sebelum membagikan konten agar tidak merugikan orang lain, berani melaporkan jika melihat atau mengalami kekerasan, baik kepada pihak berwenang maupun pengelola media sosial, serta memberikan dukungan kepada korban tanpa menyalahkan mereka.
Selain itu, masyarakat, khususnya generasi muda, didorong untuk terus meningkatkan literasi digital dan membagikan pengetahuan tersebut kepada lingkungan sekitar.
“Kita lahir di zaman teknologi, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai penjaga moral di dunia maya. Hari ini, mari berjanji bersama: tidak menjadi pelaku, tidak diam melihat kejadian, dan selalu berpihak kepada korban,” katanya
Beatrix mengatakan, Perkumpulan LAPER yang dipimpinnya tahun ini genap berusia 25 tahun. Selama 17 tahun, ia dipercaya mengemban amanah sebagai pimpinan lembaga tersebut.
Pada awalnya, LAPER lebih berfokus pada pendampingan hukum bagi korban kekerasan. Namun, seiring perkembangan, lembaga tersebut kini lebih banyak bergerak dalam upaya pencegahan melalui pendidikan di sekolah, komunitas perempuan, kelompok pemuda, hingga lingkungan keluarga di kampung-kampung.
Berdasarkan pengalaman pendampingan selama hampir delapan tahun, termasuk di wilayah Distrik Subur hingga Boven Digoel, Beatrix menyebut masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak yang berkaitan dengan penggunaan gawai dan internet.
“Sering kali hanya tiga atau sepuluh kasus yang tercatat secara resmi, padahal kenyataannya kasus tersebut bisa terjadi setiap hari. Hal ini juga sejalan dengan catatan yang dimiliki Komnas Perempuan,” ucapnya .
Di akhir keterangannya, Beatrix berharap adanya sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan lembaga seperti LAPER dalam membangun ruang yang aman bagi anak dan remaja.
Ia juga mendorong adanya kegiatan seperti Festival Anak dan Festival Remaja di Kabupaten Boven Digoel sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas generasi muda sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap berbagai bentuk kekerasan yang masih terjadi di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....