Makna Idul Adha, Muhammadiyah Boven Digoel Ajak Umat Tingkatkan Kepedulian Sosial
- 28 Mei 2026 08:53 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Ketua Muhammadiyah Boven Digoel, Fahrudin Isnanto, mengajak umat Islam menjadikan momentum Hari Raya Idul Adha sebagai sarana meningkatkan ketakwaan. Selain itu juga memaknai akan keikhlasan, serta kepedulian sosial terhadap sesama.
Dalam wawancara terkait makna Idul Adha tahun ini, Fahrudin menjelaskan bahwa Idul Adha merupakan momentum untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dimana selalu patuh dalam menjalankan perintah Allah SWT.
“Makna Idul Adha tahun ini adalah sebagai bentuk momentum untuk meneladani ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam penghambaan total kepada Allah SWT,” ujarnya, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menegaskan, ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan. Tetapi juga bentuk rasa syukur sekaligus upaya membebaskan diri dari sifat serakah dan keterikatan terhadap duniawi.
Menurutnya, terdapat beberapa nilai penting dalam pelaksanaan ibadah kurban. Pertama, kurban menjadi sarana mensucikan jiwa dari sifat duniawi, dengan belajar melepaskan keterikatan terhadap harta dan kesenangan demi mencapai ketakwaan.
Kedua, kurban merupakan bentuk ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah. Fahrudin menekankan bahwa yang dinilai Allah SWT bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan keikhlasan dan ketakwaan umat dalam menjalankan ibadah tersebut.
Selain itu, ibadah kurban juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Pembagian daging kurban dinilai menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan serta mengurangi kesenjangan di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Korban memberikan pelajaran tentang bagaimana keberpihakan sosial kepada sesama manusia menjadi bagian penting dalam kehidupan umat,” katanya.
Terkait pembagian daging kurban, Fahrudin menjelaskan bahwa secara umum daging kurban dapat dibagi menjadi tiga bagian. Yakni untuk yang berkurban, untuk hadiah kepada kerabat maupun tetangga, dan untuk fakir miskin.
Ia juga menyebutkan, bahwa daging kurban diperbolehkan diberikan kepada tetangga nonmuslim. Ini sebagai bentuk menjaga kebersamaan dan hubungan sosial di masyarakat.
“Yang penting adalah bagaimana kita membangun kebersamaan, baik sesama umat Islam maupun dengan masyarakat yang berbeda agama,” ujarnya.
Fahrudin mengajak masyarakat tetap semangat berkurban meski kondisi ekonomi masih dirasakan sulit. Bagi yang belum mampu secara materi, ia berharap masyarakat tetap dapat berkontribusi melalui tenaga, pikiran, dan kepedulian sosial.
“Momentum Idul Adha ini mari kita gunakan sebagai refleksi atas keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kita diajak untuk semaksimal mungkin meningkatkan kepedulian dan kebersamaan antar sesama,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....