Bulog Merauke Percepat Penyaluran Bantuan Pangan hingga Wilayah Terpencil
- 29 Apr 2026 05:48 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, BOVEN DIGOEL–Program bantuan pangan tahun 2026 di Papua Selatan mengalami lonjakan signifikan dan menjadi perhatian pemerintah pusat maupun daerah. Perum Bulog melalui Kantor Cabang Merauke bersama pemangku kepentingan terus mempercepat penyaluran bantuan hingga ke wilayah terpencil, dengan memastikan ketepatan sasaran sampai tingkat distrik dan kampung.
Peningkatan terlihat dari jumlah Penerima Bantuan Pangan (PBP) yang naik 87,32 persen, dari 73.163 penerima pada Oktober–November 2025 menjadi 137.049 penerima pada alokasi Februari–Maret 2026. Kenaikan ini juga diikuti peningkatan volume bantuan, yakni beras mencapai 2.740.980 kilogram atau bertambah 1.277.720 kilogram, serta minyak goreng Minyakita sebanyak 548.196 liter atau naik 255.544 liter dibanding periode sebelumnya.
Untuk memastikan kesiapan distribusi, Bulog Merauke menggelar sosialisasi bersama lima kabupaten wilayah kerjanya di Merauke. Kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, serta pihak transporter guna memperkuat sinergi penyaluran bantuan pangan yang tepat sasaran, berkualitas, dan akuntabel.
Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu, mengatakan peningkatan jumlah penerima bantuan memerlukan kesiapan yang matang. “Kenaikan ini sangat signifikan, sehingga diperlukan persiapan tidak hanya pada tahap sosialisasi, tetapi juga kesiapan teknis di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada 2026 bantuan pangan tidak hanya berupa beras, tetapi juga minyak goreng. Namun, distribusi komoditas tersebut masih menghadapi kendala, terutama keterlambatan pengiriman yang dilakukan secara bertahap. Hingga kini, penyaluran minyak goreng baru terealisasi di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Mappi.
Selanjutnya, distribusi akan dilanjutkan ke Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Yahukimo. Bulog menargetkan seluruh penyaluran bantuan pangan alokasi Februari–Maret 2026 dapat rampung hingga akhir Mei 2026.
Data menunjukkan, lonjakan tertinggi terjadi di Yahukimo dengan peningkatan penerima mencapai 147,81 persen. Sementara daerah lain juga mengalami kenaikan signifikan, yakni Merauke 31,87 persen, Asmat 76,69 persen, Boven Digoel 81,34 persen, dan Mappi 61,13 persen. Peningkatan ini berdampak langsung pada kebutuhan logistik yang semakin besar dan membutuhkan koordinasi intensif antarinstansi.
Di sisi lain, tantangan geografis Papua Selatan menjadi faktor krusial dalam penyaluran bantuan. Sejumlah wilayah dengan akses terbatas harus dijangkau melalui jalur udara, sungai, hingga darat dengan waktu tempuh panjang dan biaya tinggi. Kondisi tersebut membuat pola distribusi tidak dapat diseragamkan dan memerlukan kebijakan serta kesepakatan khusus di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....