Warna Apa Saja yang Disukai Nyamuk, Berikut Penjelasannya?
- 12 Mei 2025 20:13 WIB
- Bovendigoel
KBRN, Boven Digoel: Berbagai penelitian menunjukkan nyamuk betina Aedes (penyebar demam berdarah dan Zika) secara visual lebih tertarik pada warna-warna tertentu. Misalnya, studi laboratorium Riffell dan kawan kawan. (University of Washington) menemukan bahwa setelah terangsang karbon dioksida (CO₂), nyamuk mengejar objek berwarna merah, oranye, hitam, dan sian, tetapi mengabaikan hijau, biru, ungu, dan putih.
Temuan ini diperkaya oleh pernyataan ahli entomologi Jeffrey Riffell bahwa nyamuk “tidak suka warna putih dan hijau, tetapi sangat tertarik pada merah, dan terutama hitam”. Artinya, pakaian berwarna gelap (hitam, biru tua, merah tua, oranye) lebih mudah menarik perhatian nyamuk, sedangkan pakaian warna terang (putih, hijau muda, biru muda) cenderung lebih diabaikan.
Hasil lapangan di Mali (Afrika Barat) juga mendukung temuan ini: secara keseluruhan pakaian berwarna terang tercatat paling sedikit digigit nyamuk, sehingga penggunaan pakaian putih atau warna terang lain “dapat mengurangi paparan gigitan dan risiko penularan penyakit”.
Mengapa Warna Tertentu Lebih Menarik
Nyamuk memadukan indra pencium dan penglihatan saat mencari korban. Bau napas dan keringat manusia (CO₂ dan senyawa kulit) memperingatkan nyamuk akan keberadaan inang, lalu matanya mencari sinyal visual yang sesuai. Panjang gelombang merah-oranye sangat penting: kulit manusia memancarkan pantulan panjang gelombang merah-oranye kuat yang menarik mata nyamuk.
Warna merah-oranye dan hitam memiliki komponen panjang gelombang tinggi ini, sehingga tampak seperti sinyal “kulit” bagi nyamuk. Sebaliknya, warna hijau, biru, ungu, putih memancarkan banyak cahaya gelombang pendek (biru/hijau) atau sangat terang (putih) yang kurang mengandung panjang gelombang merah, sehingga nyamuk kurang merespons.
Selain itu, warna gelap menimbulkan kontras visual tinggi terhadap lingkungan dan dapat menyerap panas lebih banyak, sehingga mempermudah nyamuk menemukan inang melalui penglihatan atau panas badan. Sebagian ahli mengungkapkan bahwa “pakaian berwarna gelap (hitam, navy, biru tua, merah) digabung gerakan dan nafas, memudahkan nyamuk menemukan Anda”.
Namun warna saja tidak selalu cukup; nyamuk umumnya hanya menargetkan warna setelah mencium CO₂. Tanpa rangsang bau seperti nafas manusia, eksperimen menunjukkan nyamuk mengabaikan objek berwarna apa pun. Dengan kata lain, CO₂ “mengaktifkan” penglihatan mereka, lalu mereka menoleh pada objek berwarna panjang gelombang tinggi (merah, oranye, cyan) karena dihubungkan dengan sinyal inang.
Dampak pada Pilihan Pakaian
Karena faktor-faktor di atas, pilihan warna pakaian berpengaruh besar pada kemungkinan digigit nyamuk. Pakaian gelap membuat orang tampak lebih “menonjol” dan menarik nyamuk lebih banyak, terutama di area berisiko penyakit nyamuk (malaria, dengue, Zika.). Sebaliknya, penelitian lapangan menunjukkan pakaian putih/terang paling tidak menarik perhatian nyamuk.
Praktisi kesehatan melaporkan bahwa memakai pakaian warna terang (putih, krem, hijau muda, biru muda, dan seterusnya.) secara signifikan mengurangi insiden gigitan dibandingkan pakaian gelap. Misalnya, Departemen Kesehatan Georgia (CDC wilayah AS) merekomendasikan “memakai pakaian berwarna terang, termasuk lengan panjang longgar, celana panjang, dan kaus kaki” untuk mencegah gigitan. Demikian pula, departemen kesehatan Hawaii menyebutkan bahwa “nyamuk tertarik pada warna gelap sehingga gunakan pakaian berwarna terang sebanyak mungkin”.
Rekomendasi Praktis Warna Pakaian
Untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk, pakailah warna terang dan hindari warna gelap. Beberapa poin praktis:
- Warna dianjurkan: Putih, krem, pastel, biru muda, hijau muda, kuning muda, dan warna terang lainnya. Warna-warna ini kurang menarik secara visual bagi nyamuk.
- Warna dihindari: Hitam, biru tua/navy, merah tua, oranye, dan warna gelap/contras tinggi. Warna-warna ini sangat menarik perhatian nyamuk.
Sebagai contoh, ahli Riffell menekankan bahwa mengenakan putih, biru, atau hijau membuat Anda kurang menarik bagi nyamuk dibandingkan mengenakan merah atau hitam. Jika berada di hutan atau area tropis yang rawan nyamuk, pilihlah pakaian warna terang, tebal dan ketat tenunnya (untuk menghalangi gigitan), lalu celup atau semprot pakaian dengan insektisida berbasis permethrin untuk perlindungan ekstra.
Pendekatan ini didukung oleh pakar kesehatan masyarakat. Misalnya, CDC dan WHO menekankan pentingnya menutup kulit dengan pakaian terlindung berwarna terang dan penggunaan repelen pada kulit terbuka. Dengan demikian, mengenakan pakaian berwarna cerah dan longgar (lengan panjang, celana panjang) membantu meminimalkan paparan gigitan nyamuk, khususnya saat senja/pagi hari ketika nyamuk aktif. Kombinasi warna terang plus perlakuan insektisida pada pakaian secara efektif mengurangi serangan nyamuk menurut penelitian dan pedoman pencegahan.
Nyamuk cenderung tertarik pada warna-warna gelap yang memancarkan panjang gelombang merah-oranye (mirip kulit manusia). Menggunakan pakaian berwarna terang seperti putih atau pastel dapat mengurangi ketertarikan nyamuk dan risiko gigitan. Pendapat ahli epidemiologi dan entomologi konsisten menyarankan menghindari baju hitam/merah/oranye di area rawan, sebaliknya pilih warna terang serta ukuran pakaian yang longgar untuk perlindungan optimal.
Sumber: Laporan ilmiah dan organisasi kesehatan seperti J Travel Med, penelitian Universitas Washington, serta imbauan CDC/Hawaii DPH menyatakan bahwa warna hitam/merah sangat menarik nyamuk, sedangkan putih/biru-hijau cenderung menghindarinya. Pendapat ahli entomologi (Jeffrey Riffell, et al.) dan protokol kesehatan (CDC/WHO) mendukung rekomendasi pakaian berwarna terang untuk mencegah gigitan nyamuk.