Mitos dan Fakta Tentang Garam
- 11 Mei 2025 11:12 WIB
- Bovendigoel
KBRN, Boven Digoel: Garam adalah mineral alami yang terdiri dari dua unsur utama: natrium (Na) dan klorida (Cl). Dalam bentuk paling umumnya, garam dapur, zat ini tidak hanya berperan sebagai penyedap rasa, tetapi juga sebagai komponen vital bagi fungsi tubuh manusia. Garam membantu menjaga keseimbangan cairan, mengatur tekanan darah, serta mendukung fungsi otot dan saraf.
Sejak zaman kuno, garam telah menjadi bagian penting dalam peradaban, digunakan untuk mengawetkan makanan, sebagai alat tukar, bahkan sebagai simbol kekayaan. Hingga kini, meskipun perannya sering diperdebatkan dalam isu kesehatan, garam tetap menjadi bahan pokok yang tak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun seperti banyak hal dalam hidup, garam adalah baik jika digunakan secukupnya, dan bisa menjadi masalah bila berlebihan. Berikut mitos dan fakta seputar garam yang kami kutip dari berbagai sumber:
Mitos 1: Garam itu berbahaya dan harus dihindari sepenuhnya.
Fakta:
Tubuh justru membutuhkan garam (natrium) untuk berfungsi normal, seperti mengatur tekanan darah, kontraksi otot, dan kerja saraf. Yang berbahaya adalah kelebihan konsumsi, bukan garam itu sendiri.
Mitos 2: Semakin sedikit garam, semakin sehat.
Fakta:
Mengurangi garam berlebihan justru dapat menyebabkan hiponatremia, yaitu kadar natrium terlalu rendah, yang bisa menimbulkan kelelahan, mual, hingga gangguan fungsi otak. Batas konsumsi sehat menurut WHO adalah sekitar 5 gram/hari (setara 1 sendok teh).
Mitos 3: Semua jenis garam itu sama.
Fakta:
Garam dapur biasa mengandung natrium klorida dan biasanya diperkaya dengan yodium. Sementara garam laut, himalaya, atau kosher memiliki kandungan mineral tambahan, tekstur, dan rasa yang berbeda, tapi secara fungsional kandungan natriumnya tetap tinggi.
Mitos 4: Garam laut lebih sehat daripada garam biasa.
Fakta:
Meskipun garam laut mengandung mineral alami seperti magnesium dan kalsium, kadar natrium kloridanya hampir sama dengan garam meja biasa. Jadi, tetap perlu dibatasi jumlahnya.
Mitos 5: Makanan asin hanya terasa dari garam yang ditambahkan.
Fakta:
Banyak makanan olahan (keripik, saus, makanan kaleng) mengandung garam tersembunyi. Sekitar 70–80% asupan garam harian berasal dari makanan kemasan, bukan dari garam meja.
Mitos 6: Anak-anak tidak boleh makan garam sama sekali.
Fakta:
Anak-anak juga butuh garam, tapi dalam jumlah lebih kecil. WHO menganjurkan kurang dari 2 gram natrium/hari untuk anak-anak usia 2–10 tahun.
Garam bukan musuh, tapi harus dikonsumsi dengan bijak. Pilih garam beryodium, kurangi makanan olahan, dan perhatikan total asupan harian untuk menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....