Mengapa Mitos Masih Dipercayai? Mengulas Sisi Psikologis Masyarakat

  • 01 Agt 2026 21:09 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Mitos dan takhayul sering kali terasa tidak masuk akal di era modern yang serba canggih ini. Kita dengan mudah bisa mengakses informasi ilmiah hanya lewat sentuhan jari, tetapi anehnya, kepercayaan pada hal-hal seperti larangan memotong kuku di malam hari atau rasa cemas saat kucing hitam melintas tetap saja melekat. Fenomena ini membuktikan bahwa mitos bukan sekadar peninggalan masa lalu yang lupa dibuang. Ada mekanisme psikologis yang sangat kuat di dalam otak manusia yang membuat kepercayaan tersebut terus bertahan lintas generasi.

Salah satu alasan utamanya adalah dorongan alami manusia untuk mencari rasa kendali di tengah ketidakpastian. Otak kita membenci situasi yang acak atau tidak dapat diprediksi karena hal itu memicu rasa cemas. Ketika seseorang melakukan ritual tertentu atau mematuhi suatu pantangan, otak merasa telah mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari nasib buruk. Perilaku ini memberikan ilusi kontrol, sebuah perasaan nyaman bahwa kita memegang kendali atas jalan hidup kita sendiri, meskipun secara objektif tindakan tersebut tidak memiliki hubungan sebab-akibat.

Selain pencarian rasa kendali, otak manusia juga memiliki kecenderungan bawaan yang disebut bias konfirmasi. Otak kita sangat mahir menghubungkan titik-titik kejadian dan mengingat momen yang cocok dengan kepercayaan kita, sambil mengabaikan fakta yang membantahnya. Jika seseorang memercayai bahwa angka tertentu membawa sial dan kebetulan mengalami hari yang buruk di tanggal tersebut, ingatannya akan mengunci kejadian itu sebagai bukti kebenaran mitos. Sebaliknya, ribuan hari lain yang lalu tanpa masalah di tanggal yang sama akan dilupakan begitu saja.

Faktor budaya dan pengaruh sosial juga memegang peranan yang tidak kalah besar. Sejak kecil, kita tumbuh dengan mendengarkan cerita dan nasihat dari orang tua serta lingkungan sekitar. Ketika suatu mitos dipercayai oleh kelompok masyarakat tempat kita tinggal, memercayainya menjadi cara implisit untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Menolak mitos yang sudah mengakar sering kali membutuhkan usaha mental yang lebih besar daripada sekadar mengikutinya, sehingga menuruti tradisi menjadi pilihan yang jauh lebih alami dan aman secara sosial.

Pada akhirnya, kepercayaan terhadap mitos bukan menandakan bahwa seseorang tidak rasional atau kurang berpendidikan. Hal itu justru menunjukkan betapa kompleksnya cara kerja pikiran manusia dalam mengelola rasa takut, mencari makna dan bertahan hidup. Selama manusia masih merasakan ketidakpastian dan membutuhkan rasa aman, mitos akan selalu menemukan celah untuk hidup di samping logika. Keberadaan takhayul adalah bukti nyata bahwa di balik kecanggihan bernalar, kita tetaplah makhluk emosional yang merindukan kepastian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....