Parang Tramontina Era 1990-an Jadi Andalan Warga Perbatasan
- 05 Mar 2026 19:44 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID,Boven Digoel – Pada era 1990-an, parang merek Tramontina menjadi salah satu alat kerja yang cukup populer di wilayah perbatasan Kabupaten Boven Digoel, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini. Di masanya, parang ini dikenal masyarakat sebagai “parang PNG” karena banyak diperoleh melalui jalur perdagangan lintas batas.
Di sejumlah kampung pedalaman Boven Digoel, parang Tramontina dikenal ringan namun kuat. Bilahnya yang panjang dan relatif tipis membuatnya mudah digunakan untuk menebas semak, membuka kebun, hingga memotong kayu berukuran kecil sampai sedang.
Sejumlah warga setempat mengisahkan, pada dekade 1990-an parang tersebut dianggap memiliki kualitas lebih baik dibandingkan sebagian parang lokal yang cenderung lebih tebal dan berat. Stempel bertuliskan “Tramontina” dan “Brasil” pada bilahnya menjadi ciri khas yang mudah dikenali masyarakat.
Selain digunakan untuk berkebun, parang ini juga dimanfaatkan saat berburu maupun merintis jalan setapak di hutan. Gagang kayunya yang sederhana, diperkuat dengan paku rivet, membuatnya cukup kokoh untuk pemakaian jangka panjang. Bahkan, tidak sedikit warga yang hingga kini masih menyimpan parang keluaran lama tersebut sebagai alat kerja.
Di wilayah Papua Selatan, khususnya daerah perbatasan dan pedalaman, parang bukan sekadar alat kerja, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Keberadaan parang berkualitas menjadi penunjang berbagai aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada kebun dan hasil hutan.
Kini, meski berbagai merek dan model parang modern telah banyak beredar di pasaran, parang Tramontina era 1990-an tetap menyimpan nilai historis dan kenangan tersendiri bagi sebagian warga. Bagi mereka, parang tersebut bukan hanya alat kerja, tetapi juga simbol ketangguhan dan semangat bertahan hidup di tengah keterbatasan masa lalu.