Apa itu JOMO (Joy of Missing Out)?

  • 26 Feb 2026 09:31 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, banyak orang merasa harus selalu terhubung dan mengikuti setiap tren yang sedang ramai. Fenomena ini sering disebut FOMO atau fear of missing out, yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu. Namun, belakangan muncul istilah yang menjadi kebalikannya, yaitu JOMO (joy of missing out). JOMO menggambarkan perasaan bahagia karena memilih untuk tidak ikut dalam semua hal dan menikmati waktu dengan cara yang lebih tenang.

JOMO bukan berarti menutup diri dari pergaulan atau tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebaliknya, konsep ini mengajarkan seseorang untuk lebih selektif dalam menggunakan waktu dan energi. Tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua informasi harus dikomentari.

Dalam praktiknya, JOMO bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membatasi waktu bermain media sosial atau menolak ajakan yang tidak sesuai dengan prioritas pribadi. Saat seseorang berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain, tekanan untuk selalu tampil sempurna pun berkurang. Dari sinilah muncul rasa lega dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa beban ekspektasi sosial.

Selain berdampak pada ketenangan pikiran, JOMO juga berpengaruh pada kesehatan mental. Waktu yang biasanya habis untuk mengikuti aktivitas yang melelahkan bisa dialihkan untuk beristirahat, membaca buku, atau berkumpul bersama keluarga. Aktivitas yang lebih bermakna ini membantu membangun hubungan yang lebih berkualitas, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang terdekat.

Jadi, JOMO adalah tentang keberanian untuk memilih. Memilih untuk melambat, memilih untuk tidak selalu hadir di setiap keramaian dan memilih untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar membawa kebahagiaan.

Rekomendasi Berita