Perjalanan Isra Mi’raj: Makna Filosofis dan Spiritual

  • 25 Jan 2026 23:40 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel - Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu momen paling penting dan penuh makna dalam tradisi Islam. Peristiwa ini tertulis dalam Al‑Qur’an dan hadis sahih, serta dibahas dalam tafsir klasik maupun kajian kontemporer sebagai pengalaman unik yang melampaui batasan manusiawi tentang ruang dan waktu.

1. Isra Mi’raj dalam Al‑Qur’an dan Hadis

Secara tekstual, Isra disebutkan dalam Surah Al‑Isra’ (QS. 17:1):

"Maha Suci Allah yang telah memper jalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Hadis shahih juga menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad SAW:

"Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Muhammad SAW bersabda: 'Saya diambil (diangkat) oleh Allah dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu saya lihat tempat-tempat shalat para nabi sebelumnya.'" (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Hadis No. 7517; Shahih Muslim, Kitab al-Salat, Hadis No. 162)

Perintah shalat lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW selama Mi’raj menegaskan:

"Ketika sampai di Sidratul Muntaha, aku diperintahkan shalat lima waktu. Allah SWT berfirman: 'Ini adalah kewajiban bagi umatmu. Barangsiapa yang melaksanakannya, dia dekat kepada-Ku.'" (Shahih Muslim, Kitab al-Salat, Hadis No. 162)

2. Melampaui Batasan Waktu dan Ruang: Dimensi Filosofis

Secara filosofis, Isra Mi’raj mengajak kita untuk melihat realitas melampaui persepsi empiris:

1. Waktu sebagai konsep relatif: Perjalanan Nabi Muhammad SAW dilakukan dalam satu malam yang secara fisik tampak mustahil menunjukkan bahwa waktu tidak mengikat Allah dan dapat melampaui batasan yang kita anggap absolut.

2. Ruang bukan limitasi bagi yang Maha Kuasa: Isra dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu Mi’raj ke Sidratul Muntaha menunjukkan bahwa ruang fisik bukan hambatan bagi perjalanan spiritual. Pengalaman spiritual dapat “melampaui” dimensi duniawi yang biasa kita pahami.

3. Pencarian Makna dan Kesadaran Diri

Isra Mi’raj dapat dipahami sebagai metafora perjalanan batin manusia, di mana pencapaian spiritual tertinggi membutuhkan:

a. Kesadaran penuh tentang diri sendiri.

b. Hubungan langsung dengan Tuhan.

c. Perubahan nilai dan kehidupan dari material ke spiritual

Hadis tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit-langit dan pertemuannya dengan para nabi lain mengilustrasikan pencapaian kesadaran dan pemahaman spiritual yang mendalam:

"Aku dibawa naik melewati langit‑langit dan bertemu para nabi, hingga aku berdiri di hadapan Allah SWT. Dalam perjalanan itu, aku diberikan berbagai petunjuk dan perintah yang menjadi pedoman bagi umat manusia." (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Hadis No. 7518)

4. Etika, Ibadah, dan Fungsi Sosial

Isra Mi’raj menegaskan bahwa pengalaman spiritual harus tercermin dalam tindakan nyata, seperti shalat lima waktu, yang menjadi penanda disiplin, kepatuhan, dan moralitas umat Islam. Ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual yang sejati melibatkan interaksi antara batin dan praktik sosial.

Kesimpulan

Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis, tetapi juga simbol filosofis tentang kemampuan manusia untuk melampaui keterbatasan waktu dan ruang. Melalui ayat dan hadis, kita diajarkan bahwa:

a. Allah Mahakuasa atas waktu dan ruang.

b. Perjalanan spiritual manusia dapat mengatasi batasan fisik.

c. Kesadaran diri dan hubungan dengan Tuhan adalah inti eksistensi.

d. Spiritualitas harus tercermin dalam ibadah dan tindakan nyata

Dengan memahami Isra Mi’raj dari perspektif wahyu, hadis, dan tafsir, kita tidak hanya menghayati peristiwa religius, tetapi juga menginternalisasi pesan universal tentang perjalanan eksistensial manusia menuju kesempurnaan spiritual.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....