Perjuangan Orang Tua Memahami Anak Disabilitas: Dari Rasa Takut hingga Penerimaan

  • 22 Sep 2026 11:24 WIB
  •  Bovendigoel

RRI.CO.ID, Boven Digoel — Menerima kondisi anak yang terlahir dengan disabilitas bukanlah proses yang selalu mudah bagi orang tua. Pada masa awal, berbagai perasaan dapat muncul secara bersamaan, mulai dari kaget, bingung, sedih, hingga khawatir memikirkan kehidupan anak di masa depan. Tidak sedikit orang tua yang membutuhkan waktu untuk memahami kondisi anak sekaligus menyesuaikan diri dengan peran baru dalam memberikan pendampingan.

Hal tersebut juga dirasakan Putra Pratama, orang tua dari anak penyandang disabilitas. Ia mengaku sempat diliputi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran ketika pertama kali mengetahui kondisi anaknya. "Jadi kalau ingat-ingat pada saat itu sebenarnya campur aduk, ya. Ada rasa kaget, bingung, bahkan takut juga. Banyak pertanyaan muncul di kepala, nanti anak saya bagaimana, bisa sekolah atau tidak, bisa mandiri atau tidak, masa depannya bagaimana," ungkap Putra. Kekhawatiran tersebut menjadi bagian dari proses yang harus ia lalui sebagai orang tua.

Seiring berjalannya waktu, Putra mulai memahami bahwa ketakutan yang terus dipelihara tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia kemudian berusaha mengenal anaknya lebih dekat, termasuk memahami kemampuan, kebutuhan, dan hal-hal yang disukai anak. Perubahan cara pandang tersebut membuatnya tidak lagi hanya berfokus pada keterbatasan, tetapi mulai melihat berbagai potensi yang dapat dikembangkan. "Yang akhirnya saya lakukan itu mencoba memahami anak saya sendiri, melihat apa yang mungkin dia bisa, bukan hanya melihat apa yang menjadi keterbatasannya," tambahnya saat menjadi narasumber Ruang Disabilitas dan Inklusi pada Sabtu, 19 September 2026.

Proses penerimaan menjadi langkah penting bagi orang tua dalam memberikan pendampingan yang tepat. Setiap anak penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda sehingga pola pendampingannya pun tidak dapat disamakan. Dukungan orang tua dapat diberikan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar, mencoba berbagai aktivitas, berkomunikasi, serta mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensinya. Dengan demikian, anak tidak hanya mendapatkan perlindungan, tetapi juga ruang untuk tumbuh dan mengenali kemampuannya sendiri.

Perjalanan dari rasa takut menuju penerimaan menunjukkan bahwa menjadi orang tua dari anak penyandang disabilitas membutuhkan proses belajar yang terus berjalan. Penerimaan bukan berarti mengabaikan tantangan yang dihadapi, melainkan belajar melihat anak secara utuh dan memberikan dukungan berdasarkan kebutuhannya. Ketika keluarga mampu membangun lingkungan yang penuh penerimaan dan dukungan, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh dengan rasa percaya diri serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....