Kurangnya Minat Sekolah di Pedesaan, Refleksi di Hari Pendidikan Nasional

  • 03 Mei 2025 07:06 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini menjadi momen reflektif bagi para pendidik, khususnya di wilayah pedesaan. Meskipun terdapat peningkatan angka partisipasi pendidikan secara umum, rendahnya minat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi masih menjadi tantangan besar di berbagai desa.

Hal ini diungkapkan oleh Fara Mutiara, guru di SMA MA Nurul Akbar Pongka, yang secara langsung menyaksikan dinamika tersebut. “Kalau dibandingkan dulu, sekarang masyarakat desa sudah lebih sadar akan pentingnya pendidikan. Dulu banyak yang berhenti di SD, sekarang rata-rata sudah sampai SMA,” ujar Fara saat dikonfirmasi, Jumat (2/5/2025).

“Namun, tidak semua anak melanjutkan ke SMA atau kuliah. Banyak yang lebih memilih bertani atau merantau, karena dianggap lebih cepat menghasilkan uang," sambungnya.

Fara menilai bahwa rendahnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan jangka panjang menjadi salah satu penghalang utama. Banyak orang tua dan pemuda desa masih berpikir bahwa bekerja tanpa latar belakang pendidikan tinggi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Padahal, tantangan global saat ini menuntut keterampilan dan pengetahuan yang lebih kompleks, yang hanya dapat diperoleh melalui pendidikan. Hari Pendidikan Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh bersifat seremonial semata.

Diperlukan upaya serius dan kolaboratif dari semua pihak pemerintah, pendidik, masyarakat, dan media untuk membuka akses dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, khususnya di daerah tertinggal.

“Harapan saya sebagai pendidik, semoga pola pikir masyarakat—khususnya para orang tua—lebih terbuka terhadap pentingnya pendidikan. Anak-anak desa pun bisa bersaing, bahkan bisa menjadi yang terbaik jika diberi kesempatan dan dukungan,” harap Fara.

Ia juga menegaskan bahwa motivasi untuk belajar harus muncul dari dalam diri generasi muda. “Pendidikan bukan sekadar soal gelar, tapi tentang karakter, wawasan, dan masa depan. Orang yang berpendidikan memiliki lebih banyak peluang untuk memperbaiki kehidupannya,” tambahnya.

Di tengah berbagai keterbatasan infrastruktur dan akses informasi, semangat para guru dan pelajar di desa menjadi pondasi penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. Hari Pendidikan Nasional kali ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi panggilan untuk lebih serius membangun jembatan pendidikan yang merata dan inklusif bagi seluruh anak bangsa.

Rekomendasi Berita