Putra Bone Raih Beasiswa LPDP, Lanjut Studi Doktoral di New Zealand
- 15 Sep 2026 14:49 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Putra asli Kabupaten Bone, Yusri, S.Pd., M.A., berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi doktoral di Auckland University of Technology, New Zealand. Yusri yang kini merupakan dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) dan aktif sebagai Program Analyst di Yayasan Indonesia Mengabdi, dijadwalkan berangkat pada Oktober mendatang.
Yusri merupakan putra Bone yang menempuh seluruh pendidikan dasar hingga menengah di Kabupaten Bone. Ia baru meninggalkan Bone untuk melanjutkan pendidikan S1 di UNM, Makassar. “Betul ya, jadi saya asli Bone. Seluruh pendidikan dasar saya di Kabupaten Bone, dari saya sekolah SD, SMP, dan SMA saya di Bone. S1 baru pindah ke Makassar. Sebelum kuliah, saya belum pernah menginjakkan kaki sama sekali ke Makassar,” ungkapnya saat berbincang dalam program Bincang Siang RRI Bone, Selasa 15 September 2026.
Keputusan melanjutkan pendidikan ke luar daerah, menurut Yusri, didorong keinginan untuk mengembangkan potensi diri dan memperoleh peluang yang lebih luas. Setelah menyelesaikan S1 di UNM, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, juga melalui beasiswa. “Setelah kuliah UNM, saya merasa bahwa ketika saya pulang ke Bone, saya belum bisa memaksimalkan potensi saya, padahal di luar sana masih banyak potensi yang bisa saya peroleh,” ujarnya.
| Baca juga: Penggunaan Knalpot Brong Boleh untuk Hal Ini |
Perjalanan pendidikan Yusri tidak terlepas dari kondisi ekonomi keluarganya. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana, dengan ayah yang bekerja sebagai buruh tani dan ibu sebagai ibu rumah tangga. “Saya berasal dari keluarga yang memang menengah ke bawah. Ayah saya hanya buruh tani, ibu saya pekerja ibu rumah tangga. Jadi ketika mengandalkan mereka untuk kuliah, mungkin saya tidak akan lanjut kuliah,” katanya.
Semangat untuk mengenyam pendidikan tinggi tumbuh berkat dukungan sejumlah guru saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Para guru tersebut menjadi role model sekaligus memperkenalkan Yusri pada berbagai peluang beasiswa. “Untungnya di waktu SMA, ekosistemnya ada beberapa guru yang menjadi role model saya, yang bilang bahwa sebenarnya banyak beasiswa, bisa jadi coba saja. Jadi saya berusaha untuk cari beasiswa, peluang,” tuturnya.
Keterbatasan fasilitas juga tidak menyurutkan langkah Yusri mencari informasi beasiswa. Saat itu, ia belum memiliki laptop dan mengandalkan warung internet untuk mencari informasi pendidikan. “dulu kan ada warnet ya, belum ada laptop. Jadi saya dari warnet ke warnet, cuma searching, searching, searching apa, nge-print apa-apa, dan diskusi dengan gurunya,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan S2, Yusri memilih berkarier sebagai dosen di UNM. Profesi tersebut berkembang dari cita-citanya yang semula ingin menjadi guru. “Setelah kuliah, ada yang saya kenal, ada profesi dosen. Kayaknya bagus juga dosen, karena bukan hanya mengajar, tapi ada meneliti, ada pengabdian, dan sebagainya,” jelasnya. Setelah beberapa tahun menjadi dosen, ia kemudian memutuskan melanjutkan studi doktoral untuk memperluas pengalaman dan membangun kolaborasi internasional.
New Zealand menjadi salah satu negara yang sejak awal menjadi tujuan Yusri untuk melanjutkan studi. Kesempatan itu akhirnya terwujud setelah ia berhasil mendapatkan beasiswa LPDP.
“Setelah jadi beberapa tahun jadi dosen, saya menganggap bahwa sepertinya saya mau lanjut S3. Dan sepertinya untuk menambah kolaborasi internasional, untuk menambah pengalaman lagi, sepertinya saya ambil yang di luar negeri. Salah satu negara yang ingin saya tuju memang salah satunya adalah New Zealand,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....