Kemenag Bone Perkuat Pendidikan Inklusi lewat Studi Tiru

  • 11 Sep 2026 17:56 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID.BONE – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bone memperkuat penerapan pendidikan inklusi, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan madrasah ramah anak melalui studi tiru ke MI Ar Rosihan Lawang, Malang, Jumat 11 September 2026. Kegiatan tersebut dipimpin Kepala Kantor Kemenag Bone H. Ahmad Yani, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Rahman. Rombongan juga melibatkan Ketua Pokjawas, para Pengawas Madrasah, sejumlah kepala madrasah negeri dan swasta, serta Ketua DWP Kemenag Bone.

Studi tiru dilakukan untuk melihat secara langsung pengelolaan pendidikan inklusi yang telah diterapkan di MI Ar Rosihan Lawang. Madrasah tersebut dinilai memiliki pengalaman yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan inklusif di Kabupaten Bone.

Rombongan Kemenag Bone diterima Kepala MI Ar Rosihan Lawang, Dr. Lailil Qomariyah, M.Pd. Dalam pertemuan tersebut, pihak madrasah memaparkan strategi dan pengalaman dalam memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus. MI Ar Rosihan Lawang saat ini memiliki 775 peserta didik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 96 di antaranya merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mendapatkan layanan pendidikan dan pendampingan sesuai karakteristik serta kebutuhan masing-masing.

Dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusi, madrasah tersebut memiliki sekitar 170 guru dan 77 Guru Pembimbing Khusus (GPK). Tenaga pendamping ini berperan penting dalam memastikan peserta didik berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan secara optimal.

Berbagai kondisi ABK ditangani dengan pendekatan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing. Di antaranya peserta didik dengan tunarungu, tunawicara, ADHD, down syndrome, serta kebutuhan khusus lainnya.

Kepala Kantor Kemenag Bone H. Ahmad Yani mengatakan, kegiatan studi tiru memberikan pengalaman dan wawasan bagi para pengawas serta kepala madrasah yang mengikuti kunjungan. Menurutnya, praktik pendidikan inklusi yang diterapkan MI Ar Rosihan Lawang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk dikembangkan di Bone dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing madrasah.

“Sosialisasi tentang Pendidikan Inklusi di Kabupaten Bone terus kita lakukan. Melalui studi tiru ini, kami berharap para pengawas dan kepala madrasah mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana pendidikan inklusi dikelola dan diterapkan di madrasah,” ujar H. Ahmad Yani.

Ia menegaskan, pendidikan inklusi tidak sekadar menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Lebih dari itu, madrasah harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh peserta didik.

H. Ahmad Yani berharap pengalaman yang diperoleh dari MI Ar Rosihan Lawang dapat menjadi langkah awal memperkuat penerapan Pendidikan Inklusi, Kurikulum Berbasis Cinta, dan madrasah ramah anak di Kabupaten Bone. Dengan penguatan tersebut, Kemenag Bone mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif, humanis, dan bebas diskriminasi sehingga seluruh peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....