Hartas Hasbi, Perjuangan Panjang Menuju Juara Nasional

  • 07 Sep 2026 14:42 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Di balik keberhasilan Hartas Hasbi, S.E., M.Ak, meraih juara terbaik satu cabang Haflah Tilawatil Qur’an pada MTQ Korpri 2026 tingkat nasional, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Dosen sekaligus Sekretaris Program Studi Akuntansi Syariah IAIN Bone itu ternyata bukan putra asli Bone. Ia berasal dari Soppeng dan memilih Bone sebagai tempat mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara.

Lima tahun lalu, Hasbi datang ke Bone setelah dinyatakan lulus sebagai calon ASN. Perjalanannya menjadi ASN juga tidak instan. Ia mendaftar pada 2019 saat pandemi covid, dan baru dipanggil pada 2021. Saat itu, formasi yang tersedia hanya dua dan kebetulan jumlah pendaftarnya juga dua orang. Hasbi akhirnya dinyatakan lulus setelah memenuhi seluruh tahapan seleksi.

Sebagai perantau, Hasbi justru merasa menemukan ruang pengabdian dan rezekinya di Bone. Ia menyebut kepindahannya dari kota Makassar ke daerah sebagai bagian dari jalan hidup yang telah ditentukan Allah SWT. Selama lima tahun tinggal di Bone, ia mengaku nyaman dan bersyukur bisa mengabdi sekaligus mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.

“Saya selalu yakin bahwa apa yang kita inginkan itu belum tentu terbaik untuk kita. Tetapi apa yang bukan kita inginkan, justru bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita,” ujar Hasbi dalam program Bincang Siang RRI Bone, Senin 7 September 2026.

Perjalanan hidup Hasbi memang tidak mudah. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara dan harus kehilangan sang ayah ketika masih kecil. Kondisi tersebut membuatnya belajar bertahan dan hidup mandiri sejak usia muda. Saat masih SMA, ia bahkan pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan kuli bangunan, sampai jual nasi kuning di pasar. Ketika melanjutkan pendidikan di Makassar, berbagai pekerjaan dijalani untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan.

Bakat seni dan olah vokal yang dimilikinya menjadi salah satu jalan yang mengantarkan Hartas menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S1 dan S2. Ia pernah mengajar, berjualan, menjadi penyiar radio, penyanyi, MC, hingga presenter TVRI. Dari aktivitas tersebut, ia mampu membiayai pendidikan sekaligus membantu keluarganya. Sejumlah lagu ciptaannya, di antaranya Terrri Mabbatang Langi dan Atitta Nasabari, juga sempat viralmelalui media sosial.

Menariknya, kemampuan membaca Al-Qur’an yang kini mengantarkannya menjadi juara nasional juga tumbuh sejak kecil. Kedekatannya dengan sang kakek yang aktif ke masjid membuat Hasbi akrab dengan lantunan azan dan bacaan Al-Qur’an. Dari lingkungan tersebut, kemampuan vokalnya terus berkembang hingga akhirnya tidak hanya digunakan dalam dunia tarik suara, tetapi juga dalam tilawah.

“Dari yang Allah titipkan kepada saya, itulah yang saya pergunakan. Pagi mengajar, siang usaha-usaha, sore menyiar, malam pergi nyanyi lagi. Dari situlah semua, akhirnya dari bakat yang Allah titipkan bisa membantu orang tua untuk menyekolahkan sendiri,” tuturnya.

Kini, setelah meraih prestasi nasional, Hasbi tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Bersama istrinya, ia membangun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Kegiatan mengaji tersebut diberikan secara gratis. Ketika rumah di samping kediamannya dijual, Hasbi justru melihatnya sebagai kesempatan untuk menyediakan ruang belajar Al-Qur’an bagi anak-anak. Kisah tersebut melengkapi sosok Hartas Hasbi: seorang perantau yang menemukan jalan pengabdian di Bone, mengubah bakat menjadi kekuatan, dan menjadikan prestasi bukan hanya sebagai kebanggaan pribadi, tetapi juga jalan untuk memberi manfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....