Penggunaan Pupuk Kimia Berlebih Memicu Degradasi Lahan Pertanian

  • 05 Sep 2026 19:15 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Program swasembada pangan yang digencarkan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini menghadapi ancaman serius dari sektor pertanian. Ancaman tersebut dipicu oleh ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik yang memicu kegersangan serta degradasi kualitas tanah secara masif.

Pupuk anorganik pada dasarnya merupakan bahan pembenah buatan pabrik yang dirancang khusus untuk mempercepat pemenuhan hara tanaman secara instan. Meski mampu mempercepat masa panen, penggunaan bahan kimia buatan ini secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik justru akan merusak struktur alami tanah.

Dampak negatif pemakaian tanpa kontrol ini terlihat dari tanah yang mulai mengeras, kehilangan mikroorganisme hayati, hingga memicu pencemaran lingkungan akibat aliran limpasan air. Kondisi tersebut berujung pada penurunan kesuburan tanah secara drastis di wilayah Bone dan sekitarnya.

Peneliti pertanian Mendrofa dan Gulo, dalam kajian ilmiahnya mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk kimia tanpa diimbangi bahan organik akan mempercepat kerusakan ekosistem lahan. "Penggunaan pupuk kimia menyebabkan struktur tanah menjadi padat, daya simpan air berkurang, serta memicu penurunan produktivitas pertanian dalam jangka panjang," tulis Mendrofa dan Gulo dalam riset bertajuk Kajian Efisiensi Pemupukan Organik (2024).

Situasi kritis ini menegaskan pentingnya pemulihan terpadu untuk mengembalikan daya dukung lahan pertanian demi menjaga keberlanjutan hasil panen. Langkah perbaikan tersebut harus mencakup kombinasi pemupukan berimbang hingga penghentian tradisi merusak seperti pembakaran sisa panen.

Sementara itu, peneliti Universitas Sains Al-Qur’an, Yogi Syaifullah dan Fenia Taasa Wati, memaparkan strategi utama yang harus diterapkan petani untuk menyelamatkan lahan gersang. Adapun strategi uang dimaksud, Satu, pemupukan berimbang antara bahan kimia dan kompos, Mengombinasikan pupuk anorganik dengan pupuk organik (kompos/kascing) agar unsur hara cepat tersedia namun struktur fisik tanah tetap terjaga.

Dua, aplikasi pupuk hayati berbasis bakteri pengikat nitrogen, dengan memasukkan kembali mikroorganisme fungsional (bakteri pengikat nitrogen atau pelarut fosfat) untuk menghidupkan kembali ekosistem tanah. Tiga, pengembalian jerami sisa panen ke dalam tanah, residu tersebut sebaiknya dibenamkan kembali ke tanah sebagai sumber C-Organik alami.

Langkah pemulihan tanah tersebut diharapkan dapat segera diterapkan untuk menopang program ketahanan pangan nasional. Selain itu, kesadaran untuk beralih ke pola pemupukan yang ramah lingkungan menjadi kunci utama terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....