P4S : Pilar Regenerasi Petani Wujudkan Ketahanan Pangan Indonesia
- 21 Agt 2026 21:35 WIB
- Bone
RRI.CO.ID, Bone - Ditengah upaya mewujudkan swasembada pangan nasional, Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, lemahnya kelembagaan petani, serta terbatasnya akses terhadap teknologi dan pelatihan. Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi pangan apabila tidak diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia pertanian dan kelembagaan petani.
Sebagian besar petani Indonesia masih didominasi kelompok usia di atas 45 tahun sehingga regenerasi petani menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Menjawab tantangan tersebut, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) hadir sebagai lembaga pembelajaran yang berperan dalam meningkatkan kapasitas petani melalui pendidikan nonformal, pelatihan, pendampingan, hingga diseminasi inovasi teknologi pertanian.
P4S menjadi wadah bagi petani untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan usaha tani yang lebih produktif, efisien, serta berkelanjutan. Peran ini juga sejalan dengan arah pembangunan SDM pertanian dalam Renstra BPPSDMP Kementerian Pertanian 2025–2029 yang menempatkan penguatan kelembagaan dan regenerasi petani sebagai strategi utama pembangunan pertanian nasional.
Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa 2026, Fadel Muhammad S. mengatakan tim PPK Ormawa UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin menghadirkan Sikola P4S Lamellong sebagai salah satu program unggulan dalam inisiatif Mannennungeng di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone. “Program ini berfokus pada penguatan kelembagaan petani melalui penyusunan modul pelatihan, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan berkelanjutan agar P4S mampu menjadi pusat edukasi dan difusi teknologi pertanian cerdas”, kata Fadel kepada rri.co.id, Jumat, 22 Agustus 2026.
Melalui Sikola P4S Lamellong, menurut Fadel, petani tidak hanya memperoleh peningkatan keterampilan teknis budidaya, tetapi juga dibekali kemampuan dalam mengelola organisasi, menyusun perencanaan usaha tani, membangun jejaring kemitraan, hingga mengadopsi berbagai inovasi pertanian modern. “Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan petani yang lebih mandiri sekaligus memperkuat kelembagaan sebagai fondasi pembangunan pertanian yang berkelanjutan”, jelasnya.
Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya mengungkapkan dalam program Mannennungeng, penguatan P4S juga diintegrasikan dengan berbagai inovasi lainnya, seperti penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT), pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik dan pakan ternak, penerapan pola tanam Jajar Legowo, introduksi varietas unggul, hingga teknologi pengendalian hama ramah lingkungan. Integrasi berbagai inovasi tersebut menjadikan P4S tidak hanya sebagai tempat pelatihan, tetapi juga sebagai pusat demonstrasi teknologi yang dapat langsung dipraktikkan oleh petani.
Dikatakan, kehadiran P4S berfungsi sebagai jembatan antara hasil inovasi, penyuluhan, dan praktik lapangan sehingga teknologi tidak berhenti sebagai konsep, melainkan menjadi solusi nyata bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Melalui penguatan kelembagaan yang berkelanjutan, Sikola P4S Lamellong diharapkan mampu melahirkan kader-kader petani yang menjadi motor penggerak pembangunan pertanian di Desa Kajaolaliddong untuk memperkuat kapasitas organisasi petani.
“Penguatan P4S pada akhirnya bukan sekadar membangun lembaga pelatihan, tetapi membangun fondasi regenerasi petani Indonesia. Ketika petani memiliki akses terhadap pendidikan, teknologi, dan pendampingan yang berkelanjutan, maka produktivitas pertanian akan meningkat, inovasi akan lebih cepat diadopsi, dan ketahanan pangan nasional semakin kuat” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....